Skip to main content

Filsafat Marcus Aurelius


Hidup Masa Kini: Marcus Aurelius


Masa lalu dan masa depan itu dua hal yang tidak kita miliki sekarang, tidak kita pegang sekarang. Loh! kok kita bisa disakiti oleh sesuatu hal yang tidak kita punya. Kok! Kita bisa kalah oleh sesuatu yang tidak ada.

Masa lalu itu kan tidak ada, sudah lewat, dan masa depan itu nanti belum terjadi. Kok kita bisa kalah oleh dua hal itu. Katanya Marcus Aurelius, Harusnya tidak!

Jadi, Kekecewaan dan harapan jangan sampai membunuhmu. kenapa? karena ia adalah sesuatu yang tidak ada, sesuatu yang tidak ada itu jangan sampai menyakitimu. Hidupmu itu kan di masa kini.

Ada nasehat yang sangat bijak dari sahabat Nabi Ali bin Abi Thalib Sang Pintu Ilmu. Beliau berkata “Betapa bodohnya manusia, dia menghancurkan masa kini kembali, dan mengkhawatirkan masa depan dengan mengingat masa lalunya.”

Dalam ajaran Islam pesan serupa juga sering kita dengar bahwa “hari ini harus lebih baik dari hari kemarin

Hadist nabi yang cukup populer juga sering kita dengar berbunyi “Bekerjalah seakan-akan kamu hidup selama-lamanya dan beribadahlah seolah-olah kamu mati esok.”

Nampaknya dari sekian petuah bijak diatas akan bermuara pada pemanfaatan semaksimal mungkin hidup di masa kini dan sekarang juga. Tidak menyesali masa lalu dan tidak takut dengan masa depan. Biarlah yang berlalu dan tak perlu khawatir masa depan, jalani saja hidupmu saat ini dengan sebaik-baiknya. Sungguh pikiran kita akan menjadi tenang, tenteram, dan damai jika kita mengikuti anjuran ini. Living for Today.

Semoga bermanfaat dan salam kesadaran!



Comments

Popular posts from this blog

Anak bertanya pada bapaknya

Buat Apa Berpuasa Anak bertanya pada bapaknya: Puasa Anak  : Pak, buat apa sih manusia capek-capek puasa?  Bapak : Agar kita menjadi orang yang takwa Nak. Anak  : Jangan pakai istilah agama yang rumit Pak. Jelaskan yang mudah dimengerti saja.  Bapak : Takwa itu jauhi larangan, kerjakan yang diperintahkan.  Anak   : Larangan apa? Perintah siapa Pak? Bapak : Larangan berbuat keburukan, dan perintah Gusti Allah Nak. Anak  : Jadi ini puasa perintah Gusti Allah Pak.  Bapak : Betul sekali, Nak. Orang dahulu juga berpuasa kok.  Anak  : Emang Gusti Allah dapat apa, nyuruh manusia puasa.  Bapak : Manusia yang butuh puasa, Nak. Gusti Allah tidak membutuhkan apapun dan siapapun.  Anak : Buktinya apa kalau manusia butuh puasa Pak?  Bapak : Nak, semua yang ada di alam semesta itu ada titik jedanya, ada liburnya, ada cutinya. Waktu rehat itu digunakan untuk pemulihan kembali.  Hewan saja berpuasa kok Nak.  Anak : Masa Pak...

Culture Shock Di Bali

  Pengalaman 2 Pekan di Bali Saya mau berbagi cerita selama di Bali dalam 2 pekan. Saya tinggal sementara di rumah mertua yang terletak di Kabupaten Jembrana, kota Negara, Lelateng.  Ada beberapa budaya yang menurut saya baru dan menarik untuk saya ceritakan sebagai pengalaman hidup. Yuk kita simak; 1. Banyak patung  Saat saya sampai di Bali, saya melihat arsitektur bangunan patung yang banyak. Ternyata patung itu digunakan umat Hindu untuk beribadah baik di tengah kota, perkantoran, sampai perumahan.  2. Aroma dupa  Yah, yang ini saya merasakan hawa mistis namun menenangkan. Aroma dupa itu memiliki ciri khas tersendiri. Kalau saya pribadi cukup menyukai kalau sekedar lewat. Tapi, kalau kelamaan juga kurang nyaman di hidung.  3. Orang ibadah di jalanan Saya ketika jalan dengan istri saya, ada orang ibadah di perempatan jalan. Saya sempat segan ingin lewat. Tapi, kata istri saya tidak apa-apa, lewat saja. Memang itu sudah biasa. Pernah juga lihat waktu Maghr...

Ada Anak Bertanya Pada Bapaknya

Ikhlas Bersedekah Anak bertanya pada bapaknya.  Anak : Pak, kenapa sih kita dianjurkan sedekah?  Bapak: Biar kita belajar ikhlas nak.  Anak : Ikhlas itu apa sih pak? Bapak : Ikhlas itu seperti kamu buang air besar dan buang air kecil.  Anak : Maksudnya gimana Pak? Belum paham.  Bapak : Kalau kamu pengen buang air, kamu tahan apa kamu keluarkan nak? Anak : Ya pasti dikeluarkan dong Pak.  Bapak: Terus perasaan kamu gimana setelah buang air nak? Anak : Ya lega pak.  Bapak: Terus kamu rela kotoran kamu masuk toilet? Anak : Iya rela lah pak. Emang buat apa kotoran.  Bapak : Seperti itulah Ikhlas Nak. Kamu rela sepenuh hati seperti melepas kotoran itu. Dan kamu tidak mengharapkan sama sekali kotoran itu akan kembali menjadi milik kamu.  Anak : Oh begitu ya Pak.  Anak : Terus apa hubungannya Sedekah dan kotoran Pak? Bapak : sebagian harta kita itu tidak semuanya milik kita, Nak. Ada milik orang lain juga. Kalau punya orang kita ambil juga, nant...