Belajar Filsafat Ala Ibn Rusyd
Penulis merasa asing
ketika pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta untuk kuliah berbeasiswa.
Tidak ada pilihan lain waktu itu. Penulis hanya berpikir bagaimana caranya bisa
kuliah gratis dan mendapatkan gelar sarjana. Kedepannya entah seperti apa, tapi
dijalani dulu.
Ada dua jurusan yang
ditawarkan oleh kampus kepada penulis. Pertama Ilmu al-quran dan tafsir dan
yang kedua adalah Filsafat Islam. Akhirnya penulis memutuskan untuk memilih
yang kedua. Alasannya penulis merasa awam dengan dunia tafsir, penulis bukan
lulusan pesantren. Padahal dengan dunia Filsafat juga sama asingnya. Hehehe....
Belakangan selama
menggeluti Filsafat, ada kabar miring dari pandangan masyarakat umum termasuk
teman-teman penulis bahwa Filsafat itu sesat, nanti akan murtad, keluar dari
agama, gila dan tuduhan tidak enak lainnya.
Benarkah seperti itu?
Sampai suatu ketika penulis merasa tenang dengan catatan seorang Filosof muslim
Andalusia Ibn Rusyd, nasehatnya sungguh menenangkan batin penulis untuk terus
belajar Filsafat.
Beginilah kira-kira kata Ibn
Rusyd:
“Jangan takut belajar
Filsafat. Karena puncak dari Filsafat adalah sama dengan Syariat, yakni ketemu
Tuhan. Belajar filsafat itu memang mikir macam-macam dari mulai alam semesta,
diri kita, kenyataan hidup, muter-muter tapi pada puncaknya ya Tuhan. Syariat
juga begitu, kita sholat, puasa, zakat, dan ibadah lainnya itu kan menyembah
Tuhan. Begitupun dengan Filsafat, pada dasarnya puncak pencarian itu adalah
Tuhan, hanya saja Filsafat menggunakan rasio."
Man
‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu. Artinya barangsiapa
yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya.
Dari sinilah penulis
optimis bahwa sejatinya Filsafat itu pada perjalanan akhirnya, meskipun
panjang, tapi suatu saat nanti akan bermuara pada Tuhan. Bukan seperti yng
dituduhkan oleh kebanyakan orang yang tidak kenal dengan Filsafat. Mereka yang
hanya tahu mendengar kata Filsafat, tapi langsung sentimen menjudge bahwa
Filsafat itu begini dan begitu.
Tak
kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta.
Begitulah peribahasanya. Terhadap sesuatu yang tidak kita ketahui, sebaiknya
kita diam. Daripada berbicara kemudian salah lalu menyesatkan, itu bahaya.
Semoga bermanfaat dan
salam kesadaran.

Comments
Post a Comment