Skip to main content

Puisi Ketuhanan

Yang Maha Menumbuhkan



Kembali aku tercengang

Dia ciptakan langit tanpa tiang
Dia letakkan gunung, agar bumi tak goncang
Dia sebarkan berbagai binatang
Ia turunkan air hujan
untuk hidupkan aneka tumbuhan
di situ ada sebuah pesan
perenungan akan kebangkitan
Bahwa pepohonan yang mati
mampu untuk hidup kembali
seperti ketika manusia mati
suatu saat akan hidup kembali
suatu saat nanti
itu sebuah janji
peristiwa yang pasti terjadi
nyata adanya bukan alibi
Dia sampaikan dengan analogi
Dia sampaikan dengan puisi
Agar masuk ke dalam hati
Agar menyentuh alam Ruhani
Bukankah kita hidup berpasangan
Bukankah itu kenyamanan
sepasang kekasih bermesraan
memadu kasih penuh kedamaian
Tuhan jadikan ketentraman
kepada hewan dan tumbuhan
mereka pun berpasangan
hidup harmonis berdampingan
Dia Maha menumbuhkan
benih-benih yang kekeringan
semuanya Ia hidupkan
lewat mereka si Air hujan
Dia Maha Menumbuhkan
setelah kematian
Rentang waktu harian
Bulanan, Tahunan
Bahkan di akhir zaman
Saat di mana bumi binasa
oleh terompet sangkakala
berganti alam keabadian
itulah hari penghisaban
itulah hari pembalasan
itulah hari perhitungan
itulah yaumul mizan
saat di buka buku catatan
catatan segala perbuatan
sebuah laporan kehidupan
atas apa yang kita lakukan
atas apa yang kita kerjakan
itulah hari penentuan
apakah kita dalam keselamatan
ataukah kita dalam penyesalan
atau hanya kesia-siaan
Di sana Allah Menghidupkan
Dari peristiwa kematian
nampak jelas Ia menumbuhkan
bak pohon kering tertimpa hujan
Dia Maha menumbuhkan

By Pilar Teduh

 Jakarta, 2015

Comments

Popular posts from this blog

Anak bertanya pada bapaknya

Buat Apa Berpuasa Anak bertanya pada bapaknya: Puasa Anak  : Pak, buat apa sih manusia capek-capek puasa?  Bapak : Agar kita menjadi orang yang takwa Nak. Anak  : Jangan pakai istilah agama yang rumit Pak. Jelaskan yang mudah dimengerti saja.  Bapak : Takwa itu jauhi larangan, kerjakan yang diperintahkan.  Anak   : Larangan apa? Perintah siapa Pak? Bapak : Larangan berbuat keburukan, dan perintah Gusti Allah Nak. Anak  : Jadi ini puasa perintah Gusti Allah Pak.  Bapak : Betul sekali, Nak. Orang dahulu juga berpuasa kok.  Anak  : Emang Gusti Allah dapat apa, nyuruh manusia puasa.  Bapak : Manusia yang butuh puasa, Nak. Gusti Allah tidak membutuhkan apapun dan siapapun.  Anak : Buktinya apa kalau manusia butuh puasa Pak?  Bapak : Nak, semua yang ada di alam semesta itu ada titik jedanya, ada liburnya, ada cutinya. Waktu rehat itu digunakan untuk pemulihan kembali.  Hewan saja berpuasa kok Nak.  Anak : Masa Pak...

Culture Shock Di Bali

  Pengalaman 2 Pekan di Bali Saya mau berbagi cerita selama di Bali dalam 2 pekan. Saya tinggal sementara di rumah mertua yang terletak di Kabupaten Jembrana, kota Negara, Lelateng.  Ada beberapa budaya yang menurut saya baru dan menarik untuk saya ceritakan sebagai pengalaman hidup. Yuk kita simak; 1. Banyak patung  Saat saya sampai di Bali, saya melihat arsitektur bangunan patung yang banyak. Ternyata patung itu digunakan umat Hindu untuk beribadah baik di tengah kota, perkantoran, sampai perumahan.  2. Aroma dupa  Yah, yang ini saya merasakan hawa mistis namun menenangkan. Aroma dupa itu memiliki ciri khas tersendiri. Kalau saya pribadi cukup menyukai kalau sekedar lewat. Tapi, kalau kelamaan juga kurang nyaman di hidung.  3. Orang ibadah di jalanan Saya ketika jalan dengan istri saya, ada orang ibadah di perempatan jalan. Saya sempat segan ingin lewat. Tapi, kata istri saya tidak apa-apa, lewat saja. Memang itu sudah biasa. Pernah juga lihat waktu Maghr...

Ada Anak Bertanya Pada Bapaknya

Ikhlas Bersedekah Anak bertanya pada bapaknya.  Anak : Pak, kenapa sih kita dianjurkan sedekah?  Bapak: Biar kita belajar ikhlas nak.  Anak : Ikhlas itu apa sih pak? Bapak : Ikhlas itu seperti kamu buang air besar dan buang air kecil.  Anak : Maksudnya gimana Pak? Belum paham.  Bapak : Kalau kamu pengen buang air, kamu tahan apa kamu keluarkan nak? Anak : Ya pasti dikeluarkan dong Pak.  Bapak: Terus perasaan kamu gimana setelah buang air nak? Anak : Ya lega pak.  Bapak: Terus kamu rela kotoran kamu masuk toilet? Anak : Iya rela lah pak. Emang buat apa kotoran.  Bapak : Seperti itulah Ikhlas Nak. Kamu rela sepenuh hati seperti melepas kotoran itu. Dan kamu tidak mengharapkan sama sekali kotoran itu akan kembali menjadi milik kamu.  Anak : Oh begitu ya Pak.  Anak : Terus apa hubungannya Sedekah dan kotoran Pak? Bapak : sebagian harta kita itu tidak semuanya milik kita, Nak. Ada milik orang lain juga. Kalau punya orang kita ambil juga, nant...