Skip to main content

Duhai Nabiku

Oleh Jamal

Aku ingin bertanya sesuatu
Banyak yang ingin aku tahu
Aku haus akan ilmu
Duhai nabiku,
Aku butuh nasehatmu
Aku butuh hikmahmu
Aku butuh pencerahan dari lisan sucimu
Duhai nabiku,
Aku ingin ceritakan masalahku
Aku ingin minta solusi darimu
Karena aku tahu makrifatmu
Ya Tuhan,
kenapa kau sudahi turunnya nabi
Apakah Engkau sudah bosan dengan biadabnya dunia ini
Apakah Engkau biarkan saja manusia hidup seperti sekarang ini
Di zaman sekarang ini
Ya di zaman sekarang ini
Zaman gila, edan,
Zaman jahiliyah, kegelapan
Sejarah dulu kembali terulang
jahilyah bertopeng kemodernan
Dulu perang, sekarang masih ada perang
Dulu penjajahan, sekarang masih ada penjajahan
Dulu masih ada perbudakan
Sekarang ada TKI dan TKW yang dianggap pahlawan
Kemerosotan nilai moralitas
Minimnya kejujuran dan integritas
Oh, dunia yang semakin pikun
Karena usianya sudah menua
aku diam tertegun
Mengumpulkan rasa curiga
Aku cemas
Was-was
Tak bisa tidur pulas
Tak bisa bernafas lepas
Oh dunia yang semakin compang-camping
Izinkan aku sampaikan salam
Kepada mereka yang kini sedang berbaring
Di kuburan sana yang berbeda alam
Apalah arti goresan pena ini
Sekedar obati kegundahan hati
Wahai nabi, wahai nabi
Datanglah di ujung mimpi
Nyanyian intelektual
Menyelami samudera ilmu
Aku terus merasa kehausan
Tak ada ujung yang baku
Sampai titik penghabisan
Berpikir dan terus berpikir
Merenung dan terus merenung
Bertanya dan bertanya tak ada akhir
Membaskan diri dari kebodohan yang terkungkung
Akal ini tak akan puas
Dan tak akan pernah puas
tanpa batas
Luas sangatlah luas
Perjalanan panjang
Penuh halang rintang
Berliku-liku
Sulit dilalui hanya sekedar dengan membaca buku
Butuh waktu
Waktu yang sangat lama
Butuh Kesungguhan kalbu
Tamak dan perlu biaya
Perlu kecerdasan
Dan dekat dengan ahlinya
Bukan kepintaran
Tapi bijaksana

Jakarta, 01/07/2015


Comments

Popular posts from this blog

Anak bertanya pada bapaknya

Buat Apa Berpuasa Anak bertanya pada bapaknya: Puasa Anak  : Pak, buat apa sih manusia capek-capek puasa?  Bapak : Agar kita menjadi orang yang takwa Nak. Anak  : Jangan pakai istilah agama yang rumit Pak. Jelaskan yang mudah dimengerti saja.  Bapak : Takwa itu jauhi larangan, kerjakan yang diperintahkan.  Anak   : Larangan apa? Perintah siapa Pak? Bapak : Larangan berbuat keburukan, dan perintah Gusti Allah Nak. Anak  : Jadi ini puasa perintah Gusti Allah Pak.  Bapak : Betul sekali, Nak. Orang dahulu juga berpuasa kok.  Anak  : Emang Gusti Allah dapat apa, nyuruh manusia puasa.  Bapak : Manusia yang butuh puasa, Nak. Gusti Allah tidak membutuhkan apapun dan siapapun.  Anak : Buktinya apa kalau manusia butuh puasa Pak?  Bapak : Nak, semua yang ada di alam semesta itu ada titik jedanya, ada liburnya, ada cutinya. Waktu rehat itu digunakan untuk pemulihan kembali.  Hewan saja berpuasa kok Nak.  Anak : Masa Pak...

Ramadan Jalan Pulang

Ramadan, Kembali Pulang 11 bulan aku berjalan menjauh Debu dan kotoran memenuhi tubuh Ya Allah, Dengan Kasih dan Sayang-Mu Engkau khususkan 1 bulan penuh, agar aku bisa membersihkan diriku Berkali-kali aku berdusta Aku lebih mencintai harta Berkali-kali aku berdusta Aku sangat suka tahta Hanya ada secuil iman Yang kuharap banyaknya pujian Ku puja-puja jabatan Ku agungkan semua kenikmatan Namun, Engkau masih menungguku kembali Ya Allah, Ya Rabbi... Ramadan tahun ini sungguh berbeda Engkau selipkan Makhluk 'Gaib' Corona Dan Seluruh dunia hujan air mata Dan semua manusia tidak berdaya Ya Allah, terimalah aku kembali Pulang menuju-Mu lagi -Pilar Teduh-

Biografi singkat Nawal El Sa'adawi

Biografi singkat Nawal El Sa'adawi Nawal lahir di sebuah desa kecil Kefr Tahlah Pinggiran sungai Nil, Mesir, Negeri Piramida. Usianya 88 tahun, tepatnya pada 27 Oktober 1931 sebelum Indonesia merdeka. Dia dijuluki Simone De Beauvoir Dunia Arab. Dia anak pertama dari 9 bersaudara. Ayah ibunya meninggal, ketika Nawal masih muda sehingga terpaksa menjadi tulang punggung keluarga. Simone De Beauvoir sendiri adalah tokoh feminisme modern dan pakar filsafat asal Perancis terkenal di abad ke-20. Namun, sudah wafat tahun 1986. Sehingga keidentikan itu disematkan kepada Nawal. Sementara Nawal sampai saat ini masih hidup dan aktif menyuarakan gagasannya tentang feminisme modern baik di medsos maupun stasiun televisi di Mesir atau dunia. Pada awalnya Nawal adalah seorang dokter lulusan terbaik di kampusnya melawan laki-laki, namun karena tertarik dengan kasus khitan bagi perempuan yang ia sebut praktik mutilasi alat kelamin perempuan secara ilegal, maka saat itu juga dia mulai men...