Skip to main content

Posts

Senyuman Sementara

Oleh Jamal Senyuman Sementara senyummu itu ungkapan cinta tak perlu kata-kata tak perlu kalimat sempurna menatapmu saja hilangkan dahaga cukuplah lirikan mata sampaikan pedihnya kerinduan cukuplah senyum tanpa sapa sudah puaskan hasrat di dada memang terlalu gila untuk aku penikmat cinta terombang-ambing ditengah telaga tenggelam arungi luas samudera otakku berpikir sejenak merenung untuk menyibak membuka tirai kepalsuan berilusi dalam kefanaan fatamorgana ya, aku terbelenggu disana kehausan seperti onta mencari air di gurun sahara berpeluh keringat dan air mata sensasi perjumpaan itu sangat mengesankan walau hanya angin berlalu tapi membekas dalam ingatan Jakarta, 2015

Senja Berkilau

Oleh Jamal Dalam kilatan cahaya yang terpendar Aku melompat tinggi Mengukur bayanganku sendiri Melewati hembusan angin laut Menyusuri debur ombak Kaki yang lemah Jari-jemari yang kalah Namun masih terangkat tinggi Membumbung melawan gravitasi Tanpa sayap akupun terbang Melayang di udara Bermain awan senja Bersenda gurau di cakrawala Bercanda ria di desir pasir gelap Bercumbu dengan suasana alam raya Dan aku harus cepat kembali Kembali membumi Menemukan jati diri Mengenali diri sendiri Hingga diri yang Terdalam Indramayu, 23 April 2017

Sarjana Muda

Oleh Jamal Sarjana muda Mendung di langit Kelabu di bumi Cakrawala gelap terbungkus awan hitam Sementara sarjana-sarjana muda gontai Berjalan sempoyongan pusingkan masa depannya Fantasi liar merasuk pikiran mereka Merenungkan nasib yang tak jelas arahnya Tertawa padahal hati menangis Tegas padahal ragu Jakarta, 25/11/2016

Sangkakala

Oleh Jamal Hujan menentes dibumiku Diatas bentangan khatulistiwa Tumbuh subur biji-biji ungu Anggur dan sayur yang menggoda Oh zaitun, Wahai sang kurma Engkau hiasi kebun semesta buah-buahan bercanda ria rumput ilalang bercumbu mesra Binatang ternak senangkan hati menjadi harta simpanan dunia badannya tegap sigap berdiri manjakan batin puaskan raga celakalah.... celakalah.... oh dunia... oh dunia... Sangkakala telah bergema Hari kebangkitan telah tiba gemuruh langit pekakan telinga bumi mengamuk goncangkan alam raya wahai manusia... wahai manusia.... mereka lari dari saudaranya dari ibu dan bapaknya dari teman dan anak-anaknya semua sibuk dengan urusannya Kala itu.... kala itu.... ada wajah yang berseri-seri mereka tertawa bahagia ada wajah yang pucat pasi itulah mereka para pendurhaka Jakarta, 2015

Sang Pengembara

Oleh Jamal Aku berjalan menyusuri alam melintasi ruang kosong Dua kakiku semakin lebam tersesat masuk ke dalam lorong Aku terus saja berjalan mencoba melawan waktu berbekal pusaka keyakinan menuju hakikat Yang Satu Kocar-kocir otakku berputar jiwa raga berkecamuk perang dingin di atas altar membenamkan sisi yang buruk menatap ke langit luas selayang pandang tanpa batas memberi makna yang selaras memakan isi bukan ampas Aku memburu apa itu apakah bergelut di dunia filosofis berusaha mengembara ke negeri antah berantah sebelum nafasku sengal sebelum darah membiru namaku tak lagi di kenal tubuhku terbujur kaku Jakarta, 2015

Sakit Gigi

Oleh Jamal Sakit gigi aduh sakit sekali Nyut-nyutan rasanya gigi ini Aku jadi gampang emosi Nggak bisa tidur, apalagi mimpi Pipiku jadi bengkak Seperti seekor katak Darahku seperti riak Menggumpal di tenggorokan, penuh sesak Makan jadi susah Sulit buat ngunyah Ngunyah sedikit, waaahh Gigit sedikit aaaahhhh Akhirnya aku menyadari Bahwa sehat itu nikmat Akhirnya aku memahami Bahwa sakit itu beban berat Jakarta, 2015

Sahabat

Oleh Jamal dari burung ku menatapmu seperti sayap ditubuhnya terbang lepas untuk berburu bertahan hidup melawan masa dari ikan ku memandangmu seperti sirip pada tubuhnya berenang bebas di lautan biru temaninya mencari mangsa sahabat... kamu itu sayap burung kamu itu sirip ikan senantiasa tepiskan murung menghilangkan kesedihan lihatlah di sana... awan-awan yang berarak bermain angin seperti ombak mereka semua berteriak sungguh harmonis sangatlah kompak begitulah tingkahmu sobat selalu jadi tempat curhat berbagi rasa setiap saat tak peduli kantong sekarat ubahlah tangisku menjadi tawa dukaku menjadi bahagia sedihku menjadi canda marahku menjadi ceria  Jakarta, 2015