Revolusi Imam Khomeini
Nama Ayatullah Khomeini
pada tahun 1972 mengguncang dunia. Bagaimana tidak? Beliau berhasil
menumbangkan Dinasti Kerajaan Syah Muhammad Reza Pahlevi di Iran yang merupakan
boneka dari negara Adidaya Amerika.
Ruhullah Khomeini
begitulah para muridnya memberikan julukan sebagai bentuk penghormatan betapa
mulianya beliau. Beliau adalah tokoh utama dalam revolusi Islam Iran. Beliau
memberikan banyak ceramah tentang politik yang menentang pemerintah,
menggerakan demonstrasi besar-besaran di Ibu kota Teheran, serta menulis di surat-surat
kabar tentang pentingya revolusi di tanah Persia itu.
Terang saja beliau
diasingkan ke Perancis oleh pemerintah Iran untuk membatasi aktivitasnya.
Namun, bukannya malah berhenti, justru nama Imam Khomeini sering dibahas di
media cetak, radio, maupun layar kaca. Imam Khomeini juga sering memberikan
rekaman ceramah dan tulisan ke Iran dengan cara diam-diam untuk mengobarkan api
semangat revolusi kepada pemuda Iran.
Nama Imam Khomeini
bahkan disejajarkan dengan tokoh revolusioner dunia sekaliber Che Guevara,
Mussolini, Abraham Lincoln, Hittler, Lennin, Gamal Abdul Naser, dan Nehru.
Tapi, revolusi yang dilakukan Imam Khomeini sungguh berbeda. Beliau berhasil
melakukan revolusi tanpa konsep Kapitalisme, Komunisme, ataupun Nasionalime
seperti tokoh-tokoh yang diebutkan di atas. Imam Khomeini memenangkan revolusi
dibawah payung ajaran agama Islam. Slogannya yang terkenal adalah “Tidak Barat ataupun Timur, tapi Kerakyatan
Islam.”
usuat punya usut,
ternyata memang beliau bukan orang biasa, beliau masih keturunan Rasulullah
Sawa melalui garis cucu nabi yang kelima yakni Imam Musa bin Ja’far al-Kadzhim.
Mungkin darah jiwa pejuang revolusi Rasulullah Saw masih mengalir deras pada
pribadi Imam Khomeini. Namun, faktor keturunan bukan yang utama. Revolusi
adalah agenda besar butuh persiapan lama untuk mewujudkannya.
Imam Khomeini sangat
resah dengan perlakuan zhalim pemerintahan Reza Pahlevi kepada rakyatnya. Dari
mulai hanya mementingkan kemewahan keluarganya dengan menguasai aset negara
menjadi harta pribadi, melarang berbagai bentuk ritual keislaman, melarang
ulama berpakaian sorban dan menggantinya dengan setelan jas hitam ala Barat ,
melarang wanita muslim mengenakan hijab, menggantikan kalender hijriyah dengan
Masehi, melarang khotbah dan pelajaran agama di masjid-masjid. Bahkan istri
Syah Reza Pahlevi masuk ke maqam suci di Iran tanpa mengenakan hijab. Dari
sanalah Imam Khomeini bangkit menentang segala bentuk penindasan dan
ketidakadilan itu.
Di usia belia Imam
Khomeni sudah berhasil menghafal Al-quran dalam waktu singkat hanya 1 tahun.
kemudian di usia 10 tahun dia belajar ilmu eksak hitung menghitung. Lalu dia
menimba ilmu agama di Irak dan pindah ke Qum pada ulama-ulama besar di zamannya
seperti Ayatullah Syaikh Abdul Karim Hairi Yazdi. Berbagai pelajaran agama
digelutinya seperti Fiqih, ulumul qur’an dan hadits, bahasa. logika serta
filsafat. Perjalanan studi yang panjang ini akhirnya berbuah manis berupa
berdirinya Republik Islam Iran ditangan mulia beliau.
Mampukah kita melakukan
hal besar seperti beliau? Sepertinya sangat sulit. Tapi, beliau berpesan untuk
melakukan jihad akbar, terlebih dahulu kita harus memurnikan jiwa kita dan
mendekatkan diri pada Tuhan penguasa alam semesta. Karena segala perubahan
besar itu diawali dari kualitas diri sendiri dulu. Setelah itu menggantungkan
diri hanya kepada Allah Swt, bukan pada yang lain. Tuhan adalah modal kekuatan
besar. Begitupun keyakinan diri kita terhadap-Nya akan mempengaruhi tujuan dan
misi besar kita.
setelah kita selesai
dengan diri kita sendiri, barulah kita bergerak secara perlahan melakukan
perubahan demi perubahan di sekitar lingkungan kita. Dari mulai hal kecil terus
beranjak ke sesuatu yang lebih besar. Namun mesti diingat faktor utamanya
adalah tetap berpegang teguh pada tali Allah Swt. Beliau berpesan, “Putuskanlah semua hubungan dan harapan pada
selain Allah.”
Nasehat ini memang
sangat bagus dan benar adanya. Tidak ada hubungan yang abadi kecuali hubungan
kita dengan Allah. Tidak ada harapan yang terbaik kecuali harapan kita kepada
Allah. Berharap kepada selain Allah hanyalah harapan yang sia-sia. Pernahkan
kita berharap pada sesama manusia? Pasti kita akan segera sadar harapan itu
sungguh rapuh.
Jika kita tidak mampu
melakukan revolusi besar seperti beliau, paling tidak kita berusaha melakukan
revolusi penyucian diri. Agar jiwa kita suci dan murni serta menjadi
pribadi-pribadi mulia. Menebarkan manfaat kepada masyarakat sekitar. Amiiin.
Semoga bermanfaat dan
salam kesadaran.

Comments
Post a Comment