Skip to main content

Hukum Memelihara Anjing Dalam Islam


Anjing Masuk Masjid Jadi Muallaf




Beberapa pekan ini warganet dihebohkan dengan video viral tersebar di medsos dan youtube tentang seorang ibu parubaya yang membawa seekor anjing, bersitegang dengan pengurus masjdi Al- Munawaroh di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Menurut keterangan Bapak Raudahl Bahar sebagai pembina pengurus masjid tersebut, wanita itu mengaku beragama Katolik. Dia masuk masjid mengenakan baju putih, celana panjang hitam dan masih memakai alas kaki. padahal ada batas suci di area masjid.

Tidak tahu datang dari mana, ibu yang bersangkutan marah-marah lalu membuat kegaduhan di tempat suci itu. Kabarnya dia mencari suaminya yang katanya telah dinikahkan di masjid yang telah disambanginya itu.

Pengurus masjid mencoba menjelaskan bahwa tidak ada kegiatan pernikahan suaminya di sana. Namun, ibu itu tidak percaya. Malah semakin galak sikapnya. Akhirnya pengurus masjid bertindak lebih tegas dan memperingatkan bahwa ditempat ibadah tidak boleh membawa anjing. Sebab takut ada najis lalu mengganggu pelaksanaan shalat  berjamaah.

Anjing segera dikeluarkan dari masjid begitupun pemiliknya. Namun, sang pemilik tidak berkenan meninggalkan masjid sebelum anjingnya ditemukan. Terpaksa pihak pengurus Dewan Kemakmuaran Masjid (DKM) menghubungi pihak berwajib guna menangani perkara tersebut. Si Ibu lalu dibawa ke Polres setempat untuk diamankan serta dimintai keterangannya.

Sisi yang menarik bagi saya bukan seorang wanita yang beragama Katolik memasuki masjidnya. Tapi, seekor anjing yang ibu bawa mengikutinya.

Bagaimana hukum fikih anjing dalam Islam? Sebeneranya ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Setidaknya menurut mazhab sunni ada 3 pendapat. Imam Syafi’i mengatakan anjing itu najis, sedangkan Imam Hanafi yang najis hanya bagian tubuh anjing yang basah saja seperti air liur, kotoran, dan keringatnya. Adapun Imam Malik menyatakan anjing itu suci, status najis pada anjing hanya apabila dimakan atau mati menjadi bangkai.

Stigma anjing memang berkonotasi negatif dalam komunikasi masyarakat di negeri kita. Mungkin karena pengaruh mayoritas mazhab Islam di Indonesia lebih populer mengikuti Imam Syafi’i yang berpandangan anjing itu najis. Sehingga, ketika orang dipanggil “Anjing!” Itu berarti sebuah pelecehan kasar.

Berbeda dengan budaya Barat, anjing bagi mereka adalah simbol dari kesetiaan. Jadi, jika anda mengumpat orang dengan “anjing”! Maka itu bukanlah sebuah caci maki, melainkan pujian berharga.
Bila kita melihat kisah anjing dalam Al-qur’an, ternyata ada anjing yang dijamin masuk surga. Mungkin pembaca muslim sudah tahu. Iya, betul anjing milik ashabul kahfi. Sekumpulan pemuda yang melarikan diri dari penguasa dzolim di masanya demi menjaga keimanannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mereka tidur selama 309 tahun. Maha Kuasa Allah atas apa yang terjadi.

Dalam riwayat lain, sufi besar timur tengah bernama Abu Yazid Al-Busthami pernah berguru pada seekor anjing hitam. Abu Yazid hendak ke masjid dan mengangkat jubahnya karena takut terkena najis dari anjing yang ia temui. Kemudian Abu yazid kaget keika mendengar anjing itu bisa bicara lalu mengeluh dengan berkata;

Badanku ini kering. Tidak dalam keadaan basah. Sehingga aku tidak najis. Jangan khawatir menyentuhku. Kalaupun kau kena liurku, urusannya akan selesai dengan membersihkannya.”

Sontak saja Abu Yazid kaget bukan main. Dia seperti ditampar dengan pernyataan anjing itu. Saat itu juga dia merasa dirinya sombong. Dia merasa lebih baik dan tinggi hati ketimbang seekor anjing. Padahal dalam dunia sufi, dilarang ada kesombongan di dalam hati walau hanya secuil debu. Hati dan pikiran mereka harus senantiasa suci. Abu Yazid pun menangis tersedu-sedu lalu meminta maaf pada anjing dan memohon ampun kepada Allah Swt dengan penyesalan yang dalam.

Saya juga teringat kisah lain tentang Majnun yang mengejar anjing milik tetangga Layla. Kerinduan Majnun kepada Layla muncul tak terbendung tatkala melihat seekor anjing itu lewat di depan matanya. Anjing itu kemudian dikejar Majnun hingga memasuki masjid. Parahnya di masjid itu sedang banyak orang yang sholat. Tentu saja selesai sholat, para jamaah menegur si Majnun yang seenaknya melintas di depan mereka saat sedang ibadah.

Namun, Majnun menjawab, “Saya saja yang mengejar anjing bisa fokus pada anjingnya, sehingga saya tidak menghiraukan kalian yang sedang sholat. Lantas mengapa kalian tidak fokus dengan Allah, malah merasa risau dengan saya dan anjing itu?

Kisah itu mengandung sebuah nasehat hendaknya kita harus khusyu’ dalam shalat kita. Tidak peduli apapun yang terjadi di sekeliling kita. Apalagi memikirkan hal-hal yang lain ketika menghadap-Nya.
Menurut saya, bolehlah kita memperingatkan atau menegur seseorang, namun sebaiknya dengan cara yang arif dan bijaksana. Tidak perlu dengan sikap yang keras lagi kasar. Sebagaimana kita senang jika diri ini diperlakukan dengan lemah lembut penuh kasih sayang oleh orang lain.

Terakhir, izinkan saya menutup dengan sebuah pesan dari sebagian ayat Al-qur’an surat Al-A’raf ayat 179:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ



“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
Marilah berendah hati untuk mengambil pelajaran dari seekor anjing sekalipun, atau binatang lainnya. Seperti halnya Al-qur’an yang tidak segan-segan mengambil perumpamaan status manusia bisa saja lebih buruk dari hewan ternak. Terima kasih dan semoga berfaedah.
 




Comments

Popular posts from this blog

Anak bertanya pada bapaknya

Buat Apa Berpuasa Anak bertanya pada bapaknya: Puasa Anak  : Pak, buat apa sih manusia capek-capek puasa?  Bapak : Agar kita menjadi orang yang takwa Nak. Anak  : Jangan pakai istilah agama yang rumit Pak. Jelaskan yang mudah dimengerti saja.  Bapak : Takwa itu jauhi larangan, kerjakan yang diperintahkan.  Anak   : Larangan apa? Perintah siapa Pak? Bapak : Larangan berbuat keburukan, dan perintah Gusti Allah Nak. Anak  : Jadi ini puasa perintah Gusti Allah Pak.  Bapak : Betul sekali, Nak. Orang dahulu juga berpuasa kok.  Anak  : Emang Gusti Allah dapat apa, nyuruh manusia puasa.  Bapak : Manusia yang butuh puasa, Nak. Gusti Allah tidak membutuhkan apapun dan siapapun.  Anak : Buktinya apa kalau manusia butuh puasa Pak?  Bapak : Nak, semua yang ada di alam semesta itu ada titik jedanya, ada liburnya, ada cutinya. Waktu rehat itu digunakan untuk pemulihan kembali.  Hewan saja berpuasa kok Nak.  Anak : Masa Pak...

Culture Shock Di Bali

  Pengalaman 2 Pekan di Bali Saya mau berbagi cerita selama di Bali dalam 2 pekan. Saya tinggal sementara di rumah mertua yang terletak di Kabupaten Jembrana, kota Negara, Lelateng.  Ada beberapa budaya yang menurut saya baru dan menarik untuk saya ceritakan sebagai pengalaman hidup. Yuk kita simak; 1. Banyak patung  Saat saya sampai di Bali, saya melihat arsitektur bangunan patung yang banyak. Ternyata patung itu digunakan umat Hindu untuk beribadah baik di tengah kota, perkantoran, sampai perumahan.  2. Aroma dupa  Yah, yang ini saya merasakan hawa mistis namun menenangkan. Aroma dupa itu memiliki ciri khas tersendiri. Kalau saya pribadi cukup menyukai kalau sekedar lewat. Tapi, kalau kelamaan juga kurang nyaman di hidung.  3. Orang ibadah di jalanan Saya ketika jalan dengan istri saya, ada orang ibadah di perempatan jalan. Saya sempat segan ingin lewat. Tapi, kata istri saya tidak apa-apa, lewat saja. Memang itu sudah biasa. Pernah juga lihat waktu Maghr...

Ada Anak Bertanya Pada Bapaknya

Ikhlas Bersedekah Anak bertanya pada bapaknya.  Anak : Pak, kenapa sih kita dianjurkan sedekah?  Bapak: Biar kita belajar ikhlas nak.  Anak : Ikhlas itu apa sih pak? Bapak : Ikhlas itu seperti kamu buang air besar dan buang air kecil.  Anak : Maksudnya gimana Pak? Belum paham.  Bapak : Kalau kamu pengen buang air, kamu tahan apa kamu keluarkan nak? Anak : Ya pasti dikeluarkan dong Pak.  Bapak: Terus perasaan kamu gimana setelah buang air nak? Anak : Ya lega pak.  Bapak: Terus kamu rela kotoran kamu masuk toilet? Anak : Iya rela lah pak. Emang buat apa kotoran.  Bapak : Seperti itulah Ikhlas Nak. Kamu rela sepenuh hati seperti melepas kotoran itu. Dan kamu tidak mengharapkan sama sekali kotoran itu akan kembali menjadi milik kamu.  Anak : Oh begitu ya Pak.  Anak : Terus apa hubungannya Sedekah dan kotoran Pak? Bapak : sebagian harta kita itu tidak semuanya milik kita, Nak. Ada milik orang lain juga. Kalau punya orang kita ambil juga, nant...