Skip to main content

FIlsafat Yunani Kuna Diogenes


Pengendalian Diri Diogenes



Ada rumus hidup yang diberikan oleh Diogenes.[1] Apa itu? Katanya adalah pengendalian diri. Jadi, mengendalikan diri dari kesenangan duniawi. Apa sih kesenangan duniawi itu? Yakni yang hanya menuruti nafsu.
Didalamnya ada kemewahan, termasuk jabatan, kekayaan, reputasi. Jabatan, kekayaan, dan reputasi mungkin kelihatan baik. Tapi, menurut versi Diogenes, semua itu adalah ornamen timbulnya kejahatan.
Perbuatan jahat apapun pasti ada hubungannya dengan jabatan, kekayaan, ataupun reputasi. Kita boleh sebut bentuk kejahatan apapun.
Bila kita renungkan, memang ada benarnya. Perbuatan kriminal yang sering kita lihat ditelevisi, seperti koruptor itu ada hubungannya dengan jabatan dan kekayaan. Artis terjerat narkoba bahkan menjadi pengedarnya, itu karena reputasinya yang selalu ingin tampil baik dan terkenal. Pencuri dan begal, mereka ingin hidup kaya.
Sejalan dengan ajaran agama Islam. Bahwa musuh yang paling berat adalah bukan manusia atau lawan yang kita benci. Tapi musuh yang paling berat adalah hawa nafsu kita sendiri. Artinya apa? Kita harus menundukkan sampai takluk dan bisa mengontrol hawa nafsu negatif kita. Agar dia tidak jatuh pada angkara murka. Tapi berharap cenderung pada kebaikan dan kebenaran.
Betul kata Diogenes dan ajaran Nabi Muhammad Saw, bahwa mengontrol nafsu diri itu penting sekali. Maka dari itu, dalam Islam pun ada syariat puasa. Itu gunanya salah satunya adalah menahan dan melatih diri kita dari keburukan hawa nafsu selama sebulan penuh. Setelah terlatih, maka setahun kedepan dan seterusnya, kita bisa mengendalikan diri kita dengan baik.
Semoga bermanfaat dan salam kesadaran.



[1] Diogene Le Cynique adalah seorang filosof Yunani Kuna (413-323 SM). Ia dikenal sangat gandrung mengecam adat kebiasaan masyarakatnya yang buruk. Lihat M.Quraish Shihab, Lentera Hati: Kisah dan Hikmah Kehidupan (Bandung: Mizan Pustaka, 2001) Hal. 269

Comments

Popular posts from this blog

Anak bertanya pada bapaknya

Buat Apa Berpuasa Anak bertanya pada bapaknya: Puasa Anak  : Pak, buat apa sih manusia capek-capek puasa?  Bapak : Agar kita menjadi orang yang takwa Nak. Anak  : Jangan pakai istilah agama yang rumit Pak. Jelaskan yang mudah dimengerti saja.  Bapak : Takwa itu jauhi larangan, kerjakan yang diperintahkan.  Anak   : Larangan apa? Perintah siapa Pak? Bapak : Larangan berbuat keburukan, dan perintah Gusti Allah Nak. Anak  : Jadi ini puasa perintah Gusti Allah Pak.  Bapak : Betul sekali, Nak. Orang dahulu juga berpuasa kok.  Anak  : Emang Gusti Allah dapat apa, nyuruh manusia puasa.  Bapak : Manusia yang butuh puasa, Nak. Gusti Allah tidak membutuhkan apapun dan siapapun.  Anak : Buktinya apa kalau manusia butuh puasa Pak?  Bapak : Nak, semua yang ada di alam semesta itu ada titik jedanya, ada liburnya, ada cutinya. Waktu rehat itu digunakan untuk pemulihan kembali.  Hewan saja berpuasa kok Nak.  Anak : Masa Pak...

Culture Shock Di Bali

  Pengalaman 2 Pekan di Bali Saya mau berbagi cerita selama di Bali dalam 2 pekan. Saya tinggal sementara di rumah mertua yang terletak di Kabupaten Jembrana, kota Negara, Lelateng.  Ada beberapa budaya yang menurut saya baru dan menarik untuk saya ceritakan sebagai pengalaman hidup. Yuk kita simak; 1. Banyak patung  Saat saya sampai di Bali, saya melihat arsitektur bangunan patung yang banyak. Ternyata patung itu digunakan umat Hindu untuk beribadah baik di tengah kota, perkantoran, sampai perumahan.  2. Aroma dupa  Yah, yang ini saya merasakan hawa mistis namun menenangkan. Aroma dupa itu memiliki ciri khas tersendiri. Kalau saya pribadi cukup menyukai kalau sekedar lewat. Tapi, kalau kelamaan juga kurang nyaman di hidung.  3. Orang ibadah di jalanan Saya ketika jalan dengan istri saya, ada orang ibadah di perempatan jalan. Saya sempat segan ingin lewat. Tapi, kata istri saya tidak apa-apa, lewat saja. Memang itu sudah biasa. Pernah juga lihat waktu Maghr...

Ada Anak Bertanya Pada Bapaknya

Ikhlas Bersedekah Anak bertanya pada bapaknya.  Anak : Pak, kenapa sih kita dianjurkan sedekah?  Bapak: Biar kita belajar ikhlas nak.  Anak : Ikhlas itu apa sih pak? Bapak : Ikhlas itu seperti kamu buang air besar dan buang air kecil.  Anak : Maksudnya gimana Pak? Belum paham.  Bapak : Kalau kamu pengen buang air, kamu tahan apa kamu keluarkan nak? Anak : Ya pasti dikeluarkan dong Pak.  Bapak: Terus perasaan kamu gimana setelah buang air nak? Anak : Ya lega pak.  Bapak: Terus kamu rela kotoran kamu masuk toilet? Anak : Iya rela lah pak. Emang buat apa kotoran.  Bapak : Seperti itulah Ikhlas Nak. Kamu rela sepenuh hati seperti melepas kotoran itu. Dan kamu tidak mengharapkan sama sekali kotoran itu akan kembali menjadi milik kamu.  Anak : Oh begitu ya Pak.  Anak : Terus apa hubungannya Sedekah dan kotoran Pak? Bapak : sebagian harta kita itu tidak semuanya milik kita, Nak. Ada milik orang lain juga. Kalau punya orang kita ambil juga, nant...