Skip to main content

Filsafat Waktu St. Augustinus


Filsafat Waktu Augustinus



Pernahkah kita bertanya apa itu waktu? Sepintas mungkin kita menyebut detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, abad dan seterusnya. Ya, jawaban itu tidak keliru. Waktu tersebut adalah beradasarkan ukuran gerak rotasi bumi mengelilingi matahari. Dalam pandangan umum waktu demikian adanya.

Namun, ada alternatif jawaban lain yang ditawarkan oleh para filsuf. Salah satunya dari Augustinus. Ukuran waktu menurut Augustinus bukanlah rotasi bumi mengelilingi matahari. Tapi, ukuran waktu sebenarnya ada pada kesadaran mental dan batin manusia.

Supaya jelas, mari kita berikan contoh yang sederhana. Waktu akan terasa lama jika kita sedang menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Waktu akan terasa cepat jika kita sedang bersama  memadu kasih dengan orang yang kita cintai. Waktu akan terasa membosankan jika kita masuk pada mata kuliah yang tidak kita sukai. Tapi, waktu akan terasa menyenangkan jika kita bermain futsal dengan sahabat-sahabat kita. Nah, ini semua berdasarkan kenyataan kehidupan sehari-hari kita dalam mengalami waktu. Padahal waktu berjalan tetap sama 24 jam sehari tidak pernah berubah.

Bagi umat muslim pasti pernah mendengar kisah Ashabul Kahfi yang tidur di gua selama 350 tahun atau 3,5 Abad. Tapi, bagi para Ashabul Kahfi seperti tidur hanya semalam. Peristiwa ini sepertinya mustahil. Namun, dalam filsafat alternatif jawaban seperti ini bisa ditawarkan.

Menurut Augustinus ada waktu objektif dan ada waktu subjektif. Waktu objektif adalah waktu yang berdasarkan pandangan umum jam, bulan, tahun, dan abad. Tapi, waktu subjektif ukurannya lain, yakni berdasarkan kesadaran batin dan mental manusia sendiri. Waktu yang dirasakan dan dialami langsung oleh jiwa manusia.

350 abad lamanya tidur Ashabul Kahfi dalam gua itu berdasarkan waktu objektifnya. Tapi, bagi kesadaran jiwa para Ashabul Kahfi sendiri hanya tidur semalam. Selain itu menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Tuhan.

Namun, sebaik-baik manusia adalah yang bisa memanfaatkan waktunya dengan bijaksana. Jangan sampai kita termasuk dalam kategori orang-orang yang merugi, seperti yang disebutkan dalam surat Al-‘ashr. Semoga bermanfaat dan salam kesadaran.

Comments

Popular posts from this blog

Anak bertanya pada bapaknya

Buat Apa Berpuasa Anak bertanya pada bapaknya: Puasa Anak  : Pak, buat apa sih manusia capek-capek puasa?  Bapak : Agar kita menjadi orang yang takwa Nak. Anak  : Jangan pakai istilah agama yang rumit Pak. Jelaskan yang mudah dimengerti saja.  Bapak : Takwa itu jauhi larangan, kerjakan yang diperintahkan.  Anak   : Larangan apa? Perintah siapa Pak? Bapak : Larangan berbuat keburukan, dan perintah Gusti Allah Nak. Anak  : Jadi ini puasa perintah Gusti Allah Pak.  Bapak : Betul sekali, Nak. Orang dahulu juga berpuasa kok.  Anak  : Emang Gusti Allah dapat apa, nyuruh manusia puasa.  Bapak : Manusia yang butuh puasa, Nak. Gusti Allah tidak membutuhkan apapun dan siapapun.  Anak : Buktinya apa kalau manusia butuh puasa Pak?  Bapak : Nak, semua yang ada di alam semesta itu ada titik jedanya, ada liburnya, ada cutinya. Waktu rehat itu digunakan untuk pemulihan kembali.  Hewan saja berpuasa kok Nak.  Anak : Masa Pak...

Culture Shock Di Bali

  Pengalaman 2 Pekan di Bali Saya mau berbagi cerita selama di Bali dalam 2 pekan. Saya tinggal sementara di rumah mertua yang terletak di Kabupaten Jembrana, kota Negara, Lelateng.  Ada beberapa budaya yang menurut saya baru dan menarik untuk saya ceritakan sebagai pengalaman hidup. Yuk kita simak; 1. Banyak patung  Saat saya sampai di Bali, saya melihat arsitektur bangunan patung yang banyak. Ternyata patung itu digunakan umat Hindu untuk beribadah baik di tengah kota, perkantoran, sampai perumahan.  2. Aroma dupa  Yah, yang ini saya merasakan hawa mistis namun menenangkan. Aroma dupa itu memiliki ciri khas tersendiri. Kalau saya pribadi cukup menyukai kalau sekedar lewat. Tapi, kalau kelamaan juga kurang nyaman di hidung.  3. Orang ibadah di jalanan Saya ketika jalan dengan istri saya, ada orang ibadah di perempatan jalan. Saya sempat segan ingin lewat. Tapi, kata istri saya tidak apa-apa, lewat saja. Memang itu sudah biasa. Pernah juga lihat waktu Maghr...

Ada Anak Bertanya Pada Bapaknya

Ikhlas Bersedekah Anak bertanya pada bapaknya.  Anak : Pak, kenapa sih kita dianjurkan sedekah?  Bapak: Biar kita belajar ikhlas nak.  Anak : Ikhlas itu apa sih pak? Bapak : Ikhlas itu seperti kamu buang air besar dan buang air kecil.  Anak : Maksudnya gimana Pak? Belum paham.  Bapak : Kalau kamu pengen buang air, kamu tahan apa kamu keluarkan nak? Anak : Ya pasti dikeluarkan dong Pak.  Bapak: Terus perasaan kamu gimana setelah buang air nak? Anak : Ya lega pak.  Bapak: Terus kamu rela kotoran kamu masuk toilet? Anak : Iya rela lah pak. Emang buat apa kotoran.  Bapak : Seperti itulah Ikhlas Nak. Kamu rela sepenuh hati seperti melepas kotoran itu. Dan kamu tidak mengharapkan sama sekali kotoran itu akan kembali menjadi milik kamu.  Anak : Oh begitu ya Pak.  Anak : Terus apa hubungannya Sedekah dan kotoran Pak? Bapak : sebagian harta kita itu tidak semuanya milik kita, Nak. Ada milik orang lain juga. Kalau punya orang kita ambil juga, nant...