Skip to main content

Filsafat Pendidikan Paulo Freire


Pendidikan Menurut Paulo Freire


Paulo Freire adalah filosof asal Brazil yang sangat fokus terhadap dunia pendidikan serta berbagai sistemnya. Kali ini kita akan belajar bagaimana pemikiran beliau tentang pendidikan manusia.

Jika kita amati hari ini di sosial media sering terjadi komentar-komentar yang membabi buta. Saling menyerang satu sama lain, menyalah-nyalahkan orang lain. Pernahkah kita berpikir jangan-jangan diri kita sendiri yang salah. Tapi, malah kebalik, kita yang menuding-nuding kekeliruan orang lain, dan membenarkan diri sendiri. Menengok keluar begitu kritis, tapi melihat ke dalam terlalu positif, maka jadinya sombong.

Ternyata ada beda, ada jarak antara pengetahuan dan kesadaran. Kalau tahu iya, kita tahu bahwa kita tidak boleh sombong, kita tidak boleh merasa benar sendiri, tapi mungkin belum sadar.

Menurut Paulo Freire ada beberapa level dalam pendidikan. Pertama, pengetahuan. Kedua, kesadaran. Ketiga, penerapan. Keempat evaluasi.[1] Sadari level kita masih dipermukaan level awal. Kita masih hanya pada level pengetahuan, baru tahu saja. Maka sebanyak apapun ilmu dimasukkan, wawasan dimasukkan kita tidak berubah apa-apa.

Seharusnya ilmu yang kita dapatkan mampu mengubah perilaku dan sikap kita ke arah yang lebih baik. Bukan malah berbuat keburukan. Mungkin kita bisa menjawab pertanyaan tentang para koruptor di negeri kita ini dengan pemikiran Paulo Freire. Mereka yang korupsi, yang mencuri uang negara adalah orang-orang pintar, orang-orang berpendidikan tinggi, bahkan sebagian lagi tahu agama. Tapi, kok bisa berbuat kejahatan? Segera kita bisa tanggapi, iya mungkin mereka adalah orang-orang yang berpengetahuan luas, akan tetapi belum pada tahap kesadaran.  Sehingga ilmunya tidak berefek apa-apa pada dirinya. Kesadaran moralnya masih nol.

Menurut Haidar Bagir akhlak merupakan esensi dari Tasawuf.[2] Yakni cara kita mengontrol hawa nafsu. Agaknya percuma saja kita belajar banyak ilmu, namun tidak bermanfaat untuk diri kita maupun orang lain. Kita tahu tapi kita tidak sadar. Kita sadar tapi tidak ada penerapannya. Kita sudah terapkan tapi kita lupa untuk mengevaluasinya. Evaluasi adalah sama dengan introspeksi. Dalam bahasa agama kata lainnya adalah muhasabah.[3] Hal ini penting mengingat manusia adalah tempat salah dan lupa.[4]

Sayyidina Ali Karamallahu wajhah pernah berpesan “Wahai mukmin, sesungguhnya ilmu dan adab merupakan nilai dirimu. Oleh karenanya, hendaknya engkau bersungguh-sungguh mempelajari keduanya. Apapun yang menambah ilmu dan adabmu, ia akan menambah pula pada harga dan nilai dirimu.”[5]

Semoga bermanfaat dan salam kesadaran.


[1] Level Pendidikan menurut Paulo Freire
[2] Haidar Bagir, Buku saku Tasawuf (Bandung: Mizan Pustaka, 2006) Hal. 208
[3] Muhasabah berasal dari akar kata hasiba yahsabu hisab, yang artinya secara etimologis adalah melakukan perhitungan. Dalam terminologi syar’i, Muhasabah adalah sebuah upaya evaluasi diri terhadap kebaikan dan keburukan dalam semua aspeknya. Lihat M. Syah Fibrika R. 25 Inspirasi dan Motivasi Pengugah Jiwa ( Jakarta: Elex Media Komputindo, 2016) Hal. 87
[4] Lihat dalam sebuah hadits “setiap anak Adam pernah berbuat salah dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertobat dari kesalahannya.” (HR. At-Tirmidzi no.2499, Hasan)
[5] Misykat al-Anwar, hadis ke-135

Comments

Popular posts from this blog

Anak bertanya pada bapaknya

Buat Apa Berpuasa Anak bertanya pada bapaknya: Puasa Anak  : Pak, buat apa sih manusia capek-capek puasa?  Bapak : Agar kita menjadi orang yang takwa Nak. Anak  : Jangan pakai istilah agama yang rumit Pak. Jelaskan yang mudah dimengerti saja.  Bapak : Takwa itu jauhi larangan, kerjakan yang diperintahkan.  Anak   : Larangan apa? Perintah siapa Pak? Bapak : Larangan berbuat keburukan, dan perintah Gusti Allah Nak. Anak  : Jadi ini puasa perintah Gusti Allah Pak.  Bapak : Betul sekali, Nak. Orang dahulu juga berpuasa kok.  Anak  : Emang Gusti Allah dapat apa, nyuruh manusia puasa.  Bapak : Manusia yang butuh puasa, Nak. Gusti Allah tidak membutuhkan apapun dan siapapun.  Anak : Buktinya apa kalau manusia butuh puasa Pak?  Bapak : Nak, semua yang ada di alam semesta itu ada titik jedanya, ada liburnya, ada cutinya. Waktu rehat itu digunakan untuk pemulihan kembali.  Hewan saja berpuasa kok Nak.  Anak : Masa Pak...

Culture Shock Di Bali

  Pengalaman 2 Pekan di Bali Saya mau berbagi cerita selama di Bali dalam 2 pekan. Saya tinggal sementara di rumah mertua yang terletak di Kabupaten Jembrana, kota Negara, Lelateng.  Ada beberapa budaya yang menurut saya baru dan menarik untuk saya ceritakan sebagai pengalaman hidup. Yuk kita simak; 1. Banyak patung  Saat saya sampai di Bali, saya melihat arsitektur bangunan patung yang banyak. Ternyata patung itu digunakan umat Hindu untuk beribadah baik di tengah kota, perkantoran, sampai perumahan.  2. Aroma dupa  Yah, yang ini saya merasakan hawa mistis namun menenangkan. Aroma dupa itu memiliki ciri khas tersendiri. Kalau saya pribadi cukup menyukai kalau sekedar lewat. Tapi, kalau kelamaan juga kurang nyaman di hidung.  3. Orang ibadah di jalanan Saya ketika jalan dengan istri saya, ada orang ibadah di perempatan jalan. Saya sempat segan ingin lewat. Tapi, kata istri saya tidak apa-apa, lewat saja. Memang itu sudah biasa. Pernah juga lihat waktu Maghr...

Ada Anak Bertanya Pada Bapaknya

Ikhlas Bersedekah Anak bertanya pada bapaknya.  Anak : Pak, kenapa sih kita dianjurkan sedekah?  Bapak: Biar kita belajar ikhlas nak.  Anak : Ikhlas itu apa sih pak? Bapak : Ikhlas itu seperti kamu buang air besar dan buang air kecil.  Anak : Maksudnya gimana Pak? Belum paham.  Bapak : Kalau kamu pengen buang air, kamu tahan apa kamu keluarkan nak? Anak : Ya pasti dikeluarkan dong Pak.  Bapak: Terus perasaan kamu gimana setelah buang air nak? Anak : Ya lega pak.  Bapak: Terus kamu rela kotoran kamu masuk toilet? Anak : Iya rela lah pak. Emang buat apa kotoran.  Bapak : Seperti itulah Ikhlas Nak. Kamu rela sepenuh hati seperti melepas kotoran itu. Dan kamu tidak mengharapkan sama sekali kotoran itu akan kembali menjadi milik kamu.  Anak : Oh begitu ya Pak.  Anak : Terus apa hubungannya Sedekah dan kotoran Pak? Bapak : sebagian harta kita itu tidak semuanya milik kita, Nak. Ada milik orang lain juga. Kalau punya orang kita ambil juga, nant...