Skip to main content

Filsafat Mahatma Gandhi



Ahimsa Mahatma Gandhi


Kata Ghandi, Ahimsa adalah gerakan tanpa kekerasan, tidak menyakiti, serta menolak keinginan untuk membunuh. Cuma keinginan saja kalo bisa jangan. Tidak membahayakan jiwa yang lain.


Ahimsa itu lawan dari himsa kalo himsa itu artinya keras, menyerang, dan suka menyakiti. kalau ahimsa kebalikannya. Bahasa sansekerta itu kan apabila ada imbuhan ‘a’ berarti tidak. Seperti kata agama. a artinya tidak dan gama berarti kacau atau rusak. Agama berarti  tidak kacau. Orang yang beragama harusnya hidup dengan harmonis.

Jika orang beragama tapi hidupnya kacau, maka jangan menggunakan istilah agama. Jika orang beragama tapi malah menyakiti orang lain, bikin onar dimana-mana, orang yang dekat dengan dia justru malah tidak aman, maka itu belum bisa dikatakan pemeluk agama.

Katanya Gandhi, “tidak mungkin orang bisa memperjuangkan kebenaran, jika dirinya sendiri suka dengan kekerasan.” Namun, anti kekerasan itu bukan sikap yang mudah untuk dipraktikkan. Misalnya kita dihina orang, kita tidak akan pernah membalas dengan perbuatan yang serupa. Tapi, kita malah memohon maaf kepada si pencaci. Mungkin kita yang salah. Sikap ini bukan berarti kita merendahkan diri atau membiarkan harga diri diinjak-injak orang lain. Tapi, adalah sebuah kelembutan hati di depan kekerasan.

Kelembutan akan selalu unggul melawan kekerasan. Kekerasan akan tunduk pada kelembutan. Dalam Al-qur’an pun disebutkan ditengah-tengah mushaf ada ayat berbunyi “Walyathalathof” artinya dan menjadi lembutlah, menjadi lunaklah. Barang-barang yang keras juga akan cepat bengkok bahkan patah. Tapi barang-barang yang lembut lebih tahan lama dari yang keras, karena dia fleksibel dan lentur. Sukses dakwahnya Nabi Muhammad Saw pun, salah satu sebabnya adalah karena akhlaknya yang lembut penuh kasih sayang kepada umatnya.

orang yang anti kekerasan itu tidak melihat konflik. Di kepalanya hanya ada harmoni dan kedamaian. Di dalam hati orang yang anti kekerasan itu hanya ada cinta dan kasih sayang. Keras lawan keras akan saling mengalahkan, saling menjatuhkan. Tapi, lembut melawan keras akan selalu dimenangkan oleh yang lembut. 

Dewasa ini, sebagian umat muslim ada yang berlaku keras, adu domba, menebar kebencian, saling menghujat satu sama lain. Nah, dengan belajar pada orang bijak dari India Mahatma Gandhi ini, mungkin kita bisa mendapatkan kesadaran bahwa agama dan kebenaran itu sangat jauh dari kekerasan. Terbukti Mahatma Ghandi dengan Hindunya menyuarakan Ahimsa berhasil mewujudkan perdamaian dunia baik di negaranya India dan berpengaruh terhadap negara lain.

Semoga sekelumit catatan sederhana tentang Ahimsa ini dapat mengubah perilaku kita agar cinta kedamaian dan saling menebar kasih sayang pada semua makhluk di alam semesta ini.

Semoga bermanfaat dan salam kesadaran.

Comments

Popular posts from this blog

Anak bertanya pada bapaknya

Buat Apa Berpuasa Anak bertanya pada bapaknya: Puasa Anak  : Pak, buat apa sih manusia capek-capek puasa?  Bapak : Agar kita menjadi orang yang takwa Nak. Anak  : Jangan pakai istilah agama yang rumit Pak. Jelaskan yang mudah dimengerti saja.  Bapak : Takwa itu jauhi larangan, kerjakan yang diperintahkan.  Anak   : Larangan apa? Perintah siapa Pak? Bapak : Larangan berbuat keburukan, dan perintah Gusti Allah Nak. Anak  : Jadi ini puasa perintah Gusti Allah Pak.  Bapak : Betul sekali, Nak. Orang dahulu juga berpuasa kok.  Anak  : Emang Gusti Allah dapat apa, nyuruh manusia puasa.  Bapak : Manusia yang butuh puasa, Nak. Gusti Allah tidak membutuhkan apapun dan siapapun.  Anak : Buktinya apa kalau manusia butuh puasa Pak?  Bapak : Nak, semua yang ada di alam semesta itu ada titik jedanya, ada liburnya, ada cutinya. Waktu rehat itu digunakan untuk pemulihan kembali.  Hewan saja berpuasa kok Nak.  Anak : Masa Pak...

Ramadan Jalan Pulang

Ramadan, Kembali Pulang 11 bulan aku berjalan menjauh Debu dan kotoran memenuhi tubuh Ya Allah, Dengan Kasih dan Sayang-Mu Engkau khususkan 1 bulan penuh, agar aku bisa membersihkan diriku Berkali-kali aku berdusta Aku lebih mencintai harta Berkali-kali aku berdusta Aku sangat suka tahta Hanya ada secuil iman Yang kuharap banyaknya pujian Ku puja-puja jabatan Ku agungkan semua kenikmatan Namun, Engkau masih menungguku kembali Ya Allah, Ya Rabbi... Ramadan tahun ini sungguh berbeda Engkau selipkan Makhluk 'Gaib' Corona Dan Seluruh dunia hujan air mata Dan semua manusia tidak berdaya Ya Allah, terimalah aku kembali Pulang menuju-Mu lagi -Pilar Teduh-

Biografi singkat Nawal El Sa'adawi

Biografi singkat Nawal El Sa'adawi Nawal lahir di sebuah desa kecil Kefr Tahlah Pinggiran sungai Nil, Mesir, Negeri Piramida. Usianya 88 tahun, tepatnya pada 27 Oktober 1931 sebelum Indonesia merdeka. Dia dijuluki Simone De Beauvoir Dunia Arab. Dia anak pertama dari 9 bersaudara. Ayah ibunya meninggal, ketika Nawal masih muda sehingga terpaksa menjadi tulang punggung keluarga. Simone De Beauvoir sendiri adalah tokoh feminisme modern dan pakar filsafat asal Perancis terkenal di abad ke-20. Namun, sudah wafat tahun 1986. Sehingga keidentikan itu disematkan kepada Nawal. Sementara Nawal sampai saat ini masih hidup dan aktif menyuarakan gagasannya tentang feminisme modern baik di medsos maupun stasiun televisi di Mesir atau dunia. Pada awalnya Nawal adalah seorang dokter lulusan terbaik di kampusnya melawan laki-laki, namun karena tertarik dengan kasus khitan bagi perempuan yang ia sebut praktik mutilasi alat kelamin perempuan secara ilegal, maka saat itu juga dia mulai men...