Mengikat Ilmu Versi Imam Al-Ghazali[1]
Nama Al-Ghazali sangat
populer dalam benak umat muslim di seluruh dunia, khususnya di Indonesia.
Kitab-kitab karya Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali menjadi kajian favorit di
pondok-pondok pesantren di seluruh tanah air ini. Siapa yang tidak mengenal
kitab Ihya ulum al-din, Misykat al-Anwar,
atau kitab kontroversinya Tahafut
al-Falasifah. Tentu karya-karyanya tersebut tidak asing terdengar di
telinga kaum muslimin, bahkan bagi para sarjana Barat yang khusus menekuni Islamic Studies.
Beliau memang dikenal
sebagai ulama yang produktif dalam bidang tulis menulis pada zamannya. Maka
dari itu, Hujjatul Islam adalah gelar
yang tepat bagi beliau. Kali ini kita akan belajar pada pemikir besar muslim
bagaimana menghargai ilmu dan mencintai literasi.
Sejak kecil, Al-Ghazali
dikenal sebagai anak yang “kutu buku”. Kebiasaan inilah yang akan membawa
beliau menjadi ulama besar di masa depan. Menginjak remaja, beliau berguru pada
Al-Juwaini, ulama ternama di masanya yang menguasai hukum fiqh dan teologi. Di
sana beliau menghafal kitab teologi hingga 12.000 halaman tanpa menuliskannya.
Tak hanya menyimpannya dalam memori pikiran, Al-Ghazali juga mengajarkannya
kepada teman-temannya melalui diskusi aktif. Tentu saja, Al-ghazali adalah
bintangnya.
Ada peritiwa penting
selama pengembaraan ilmu Al-Ghazali. Dalam sebuah perjalanan bersama
kawan-kawannya, di tengah jalan ia dibegal oleh sekelompok orang yang membawa
senjata tajam. Perampok itu bahkan melukai salah seorang sahabat Al-Ghazali.
Barang-barang berharga seperti uang, perhiasan, semua raib. Tinggal Al-Ghazali
yang menyimpan buku di bajunya. Perampok itu mendekat ke arah Al-Ghzali dan
ingin merampas sesuatu di balik baju itu.
Perampok dengan kasar
memaksa “Coba lihat apa yang kau sembunyikan! Berikanlah padaku!”
“Jangan, ini tidak
berharga bagimu!” Sahut Al-Ghazali.
“Apa? Tidak berharga
katamu!” Jawab perampok.
“Iya, ini hanya berisi
semua yang kupelajari dari perjalananku ke Jurjan (sebuah kota di Iran). Semua
yang kupelajari dari guru-guruku selama dua tahun terakhir. Itu semua yang
kutahu” Kata Al-Ghazali, dengan mata yang memohon.
Namun, perampok itu
terus menarik dan memaksa Al-Ghazali untuk memberikan barangnya dengan
perlakuan tidak ramah sama sekali. Ada kata-kata perampok yang selalu
terngiang-ngiang pasca kejadian itu ditelinga Al-Ghazali.
Sang perampok
mengatakan, “Jadi, aku cukup merampasnya darimu untuk menghapus semua
pengetahuanmu.” Lalu perampok itu melemparkan lembaran-lembaran kertas milik
Al-Ghazali ke arah udara, tepat di atas kepala Al-Ghazali.
Kemudian Al-Ghazali merasa
mendapatkan pencerahan dari seorang perampok. Ia seakan disadarkan sesuatu.
Mungkin perampok itu sengaja diutus Tuhan untuk mengajari Al-Ghazali. Akhirnya
dari hikmah kejadian itu, Al-Ghazali bertekad demi Tuhan untuk menghabiskan 3
tahun menghafalkan catatan yang telah beliau peroleh selama menuntut ilmu.
Sambil terus melanjutkan studinya di bawah bimbingan Imam Al-Haramain
Al-Juwaini.
Kisah singkat tentang
Al-Ghazali ini sungguh sangat memberikan pelajaran penting bagi kita semua.
Khususnya untuk para pelajar dari tingkat sekolah dasar hingga menjadi seorang
mahasiswa. Betapa di zaman yang belum ada teknologi canggih untuk mempermudah
mencari ilmu seperti sekarang, Al-Ghazali sangat bersemangat menyelami
pengetahuan. Aktivitas membaca, menulis, dan menghafalkannya beliau lakukan
hingga bertahun-tahun. Semua itu murni karena begitu cintanya beliau dengan
ilmu pengetahuan. Tidak ada motif lain.
Seperti menuntut ilmu
di bangku kuliah agar mendapatkan pekerjaan yang layak misalnya. Tidak,
Al-Ghazali tidak seperti itu. Meskipun niat seperti itu tidak ada salahnya.
Hanya saja, sebenarnya penghasilan itu seharusnya efek dari ilmu kita.
Maksudnya, ketika kita menguasai bidang ilmu tertentu, lalu kita mengamalkannya
kepada orang lain, maka pastilah kita akan mendapatkan imbalan berupa materi
dari orang yang mendapatkan manfaat akan ilmu kita tersebut. Hal ini realistis,
bukan pamrih. Akan tetapi mesti diingat, menjadi seorang pakar ilmu itu butuh
kerja keras dan kesungguhan luar biasa.
Semoga inspirasi kisah
singkat dan sangat sederhana tentang Al-Ghazali ini dapat memberikan motivasi
kepada kita semua agar lebih serius lagi dalam belajar hal apapun. Semoga
bermanfaat dan salam kesadaran.
[1] Disadur
dari sebuah film berjudul Al-Ghazali The
Alchemist of Happines. Sebuah film dokumenter tentang biografi hidup Abu Hamid
Muhammad Al-Ghazali.

Comments
Post a Comment