Skip to main content

Tips Bahagia Abraham Lincoln Presiden Amerika

Tips Hidup Bahagia Abraham Lincoln 


Abraham Lincoln mantan presiden Amerika pernah berkata, "Orang menjadi bahagia jika mereka mengkondisikan pikiran mereka menjadi bahagia."

Mungkin kita sering mendengar ungkapan, "Kamu adalah apa yang kamu pikirkan." Memang begitu besar pengaruh pikiran dalam kehidupan kita.

Aristoteles sang filsuf bahkan mendefinisikan manusia adalah hewan yang berpikir. Pengertian ini mudah saja diterima, karena memang yang membedakan manusia dengan hewan atau makhluk hidup lainnya adalah terletak pada akal pikirannya. Hewan dan tumbuhan hanya punya insting untuk tumbuh, bergerak, berkembang biak, dan bertingkah laku sesuai dengan alam bawaannya.

Akan tetapi, berbeda dengan manusia. Manusia memiliki pikiran yang membuatnya menjadi cerdas dalam membaca buku atau memahami fenomena alam semesta. Manusia mampu berhitung, berinovasi, dan berkreasi apa yang dia kehendaki. Semua itu berkat kekuatan akal pikiran yang dimilikinya.

Maka dari itu, dominasi akal pikiran ini juga menjadi sebab bagi keadaan batin atau sisi emosional manusia. Mari kita berikan satu contoh. Hujan hanyalah peristiwa jatuhnya air. Tapi, sebagian orang ada yang menganggap spesial karena berkenaan dengan kenangannya dengan sesoarang bisa sedih bisa juga bahagia. Tsunami adalah fenomena alam. Namun, sebagian orang menganggap itu bencana, azab, atau peringatan. Semua itu datangnya dari pikiran yang memaknai Tsunami tersebut.

Jika ditanya, bahagia itu seperti apa? Kita akan menjawab punya rumah besar, mobil mewah, istri cantik, pekerjaan tetap dan lain-lain. Hal ini adalah kebahagiaan versi kita dan apa yang ada di kepala kita. Pikiran kita yang memahami kebahagiaan seperti itu.

Ada tukang bangunan ditanya, "Bapak apakah merasa hidup bahagia?"
"Iya tentu saya bahagia." Jawab tukang bangunan.
"Loh kok bisa? Ini pekerjaan berat loh pak! Gajinya juga kecil."
"Yang penting anak istri saya sehat, nafkah untuk mereka cukup, saya juga bisa setiap hari kumpul dengan teman-teman saya di tempat kerja. Kurang apa lagi?"

Sementara di waktu lain, pemilik gedung perusahaan ditanya dengan pertanyaan yang sama.
"Apakah bapak merasa bahagia?"
"Rasanya saya belum cukup bahagia." Jawab direketur perusahaan.
"Kenapa begitu pak?"
"Target perusaahn tahun ini tidak mencapai 100%. Hanya mencapai 50%. Perusahaan bisa rugi, dan bahkan kalo kaya gini terus bisa bangkrut. Pusing saya." Keluhnya dengan wajah frustasi.

Lihatlah tukang bangunan memaknai kebahagiaan begitu sederhana, sedangkan direktur perusahaan memahami kebahagiaan sangatlah kompleks.

Kebahagiaan sebenarnya ada dalam pikiran kita. Bagaimana kita merespon sesuatu yang ada di luar diri kita. Sebanyak apapun uang yang kita punya, tapi pikiran kita tidak pernah bersyukur, maka kegelisahan hati akan tetap menggelayuti. Tapi, meskipun uang sedikit yang kita miliki namun pikiran kita pandai bersyukur, maka hati akan lega dan tenang.

Maka berpikirlah dengan sehat!

Semoga bermanfaat dan salam kesadaran.

Comments

Popular posts from this blog

Anak bertanya pada bapaknya

Buat Apa Berpuasa Anak bertanya pada bapaknya: Puasa Anak  : Pak, buat apa sih manusia capek-capek puasa?  Bapak : Agar kita menjadi orang yang takwa Nak. Anak  : Jangan pakai istilah agama yang rumit Pak. Jelaskan yang mudah dimengerti saja.  Bapak : Takwa itu jauhi larangan, kerjakan yang diperintahkan.  Anak   : Larangan apa? Perintah siapa Pak? Bapak : Larangan berbuat keburukan, dan perintah Gusti Allah Nak. Anak  : Jadi ini puasa perintah Gusti Allah Pak.  Bapak : Betul sekali, Nak. Orang dahulu juga berpuasa kok.  Anak  : Emang Gusti Allah dapat apa, nyuruh manusia puasa.  Bapak : Manusia yang butuh puasa, Nak. Gusti Allah tidak membutuhkan apapun dan siapapun.  Anak : Buktinya apa kalau manusia butuh puasa Pak?  Bapak : Nak, semua yang ada di alam semesta itu ada titik jedanya, ada liburnya, ada cutinya. Waktu rehat itu digunakan untuk pemulihan kembali.  Hewan saja berpuasa kok Nak.  Anak : Masa Pak...

Culture Shock Di Bali

  Pengalaman 2 Pekan di Bali Saya mau berbagi cerita selama di Bali dalam 2 pekan. Saya tinggal sementara di rumah mertua yang terletak di Kabupaten Jembrana, kota Negara, Lelateng.  Ada beberapa budaya yang menurut saya baru dan menarik untuk saya ceritakan sebagai pengalaman hidup. Yuk kita simak; 1. Banyak patung  Saat saya sampai di Bali, saya melihat arsitektur bangunan patung yang banyak. Ternyata patung itu digunakan umat Hindu untuk beribadah baik di tengah kota, perkantoran, sampai perumahan.  2. Aroma dupa  Yah, yang ini saya merasakan hawa mistis namun menenangkan. Aroma dupa itu memiliki ciri khas tersendiri. Kalau saya pribadi cukup menyukai kalau sekedar lewat. Tapi, kalau kelamaan juga kurang nyaman di hidung.  3. Orang ibadah di jalanan Saya ketika jalan dengan istri saya, ada orang ibadah di perempatan jalan. Saya sempat segan ingin lewat. Tapi, kata istri saya tidak apa-apa, lewat saja. Memang itu sudah biasa. Pernah juga lihat waktu Maghr...

Ada Anak Bertanya Pada Bapaknya

Ikhlas Bersedekah Anak bertanya pada bapaknya.  Anak : Pak, kenapa sih kita dianjurkan sedekah?  Bapak: Biar kita belajar ikhlas nak.  Anak : Ikhlas itu apa sih pak? Bapak : Ikhlas itu seperti kamu buang air besar dan buang air kecil.  Anak : Maksudnya gimana Pak? Belum paham.  Bapak : Kalau kamu pengen buang air, kamu tahan apa kamu keluarkan nak? Anak : Ya pasti dikeluarkan dong Pak.  Bapak: Terus perasaan kamu gimana setelah buang air nak? Anak : Ya lega pak.  Bapak: Terus kamu rela kotoran kamu masuk toilet? Anak : Iya rela lah pak. Emang buat apa kotoran.  Bapak : Seperti itulah Ikhlas Nak. Kamu rela sepenuh hati seperti melepas kotoran itu. Dan kamu tidak mengharapkan sama sekali kotoran itu akan kembali menjadi milik kamu.  Anak : Oh begitu ya Pak.  Anak : Terus apa hubungannya Sedekah dan kotoran Pak? Bapak : sebagian harta kita itu tidak semuanya milik kita, Nak. Ada milik orang lain juga. Kalau punya orang kita ambil juga, nant...