Oleh Jamal
Bulan
purnama di malam kelam
cahayanya menembus kesunyianku
mataku berbinar memotret sisi kosong
Hanya setitik darah berbau anyir
menyapaku kala itu
cahayanya menembus kesunyianku
mataku berbinar memotret sisi kosong
Hanya setitik darah berbau anyir
menyapaku kala itu
secangkir
kopi hitam hangat
menemaniku dengan setia
menungguku melawan waktu
meskipun tak akan bisa
tak akan mampu ku hentikan hukum alam ini
menemaniku dengan setia
menungguku melawan waktu
meskipun tak akan bisa
tak akan mampu ku hentikan hukum alam ini
ku
helakan nafas panjang
kurasakan udaranya mengalir di kepalaku
menyentuh damai kerongkonganku
sampai perutku kembang kempis
Hatiku mengeras
kurasakan udaranya mengalir di kepalaku
menyentuh damai kerongkonganku
sampai perutku kembang kempis
Hatiku mengeras
aku
gelisah
bagaimana caranya untuk sembuhkan lukaku
kembali pada titik semu itu
tidak, aku harus mencari sudut senja
bukan sudut hampa
bagaimana caranya untuk sembuhkan lukaku
kembali pada titik semu itu
tidak, aku harus mencari sudut senja
bukan sudut hampa
keras,
semakin mengeras kalbuku
akalku kacau meracau
mengais-ngais pola abstrak
kisah-kisah terlampau hilang
hilang hikmahnya
akalku kacau meracau
mengais-ngais pola abstrak
kisah-kisah terlampau hilang
hilang hikmahnya
rupanya
aku tersadar
mimpi buruk itu telah lama menggelayutiku
segera aku beranjak pada yang suci
mengejar yang sejati
sebuah keindahan yang tiada tara
Yang Hakiki, Oh Illahi
mimpi buruk itu telah lama menggelayutiku
segera aku beranjak pada yang suci
mengejar yang sejati
sebuah keindahan yang tiada tara
Yang Hakiki, Oh Illahi
Jakarta, 13/12/2016. 21.01
Comments
Post a Comment