Karya Jamal
Malam menggelayuti kamar sempit ini
Terdengar kipas
mengayunkan angin
Memutar-mutar udara yang makin sesak
Tak ada ruang yang cukup untuk berekspresi
Aku terkulai terkurung di kamar ini
Hanya bisa duduk menatap tembok yang kian retak
Menundukan kepala ke arah lantai yang kusam
Berbaring diranjang bisu
Bisik-bisik terus menghantuiku
Mereka terus menggodaku
Agar aku tertahan di kamar sepi
Sunyi tak ada keramaian
Lalu kulihat ada secercah sinar dari arah sudut
Tepat masuk ke dua bola mataku
Nampak berbinar berikan harapan
Harapan semu, oh harapan palsu
Aku cari lagi dengan tarikan nafas
Tarikan nafas yang agak dalam dari biasanya
Aku coba tersenyum, tersenyum hibur diriku
Gigiku terlihat pucat pasi
Kakiku masih terasa ngilu
Tanganku gemetar
Degup jantung terus saja berdetak
Beradu dengan gemulai kipas angin kamarku
Aku terus saja menari
Berdansa ria dengan khayalku
Khayalku yang liar
Terbang bebas nmengitari awan
Aku ingin menyapa nabiku
Aku ingin menyapa rasulku
Aku ingin memeluk tuhanku
Tapi aku tak bisa, aku yang dipeluk
Air mata, keringat, darah, tulang rusuk
Oh, tulang rusukku patah,
Sakit, oh tidak, ada yang lebih sakit dari itu
Ya, ketika penciptamu tak mengakuimu
Meninggalkanmu dalam kesia-siaan
Itulah yang lebih sakit
Yang lebih sakit adalah ketika kau tak terampuni
Yang lebih sakit adalah ketika kau tak mengenal-Nya
Lalu Dia, Dia mencampakkan kau
Tapi tidak, dia maha Baik
Dia Maha pengampun
Dia maha Penyantun
Dia Segalanya, Oh Rabbi,...
05/10/16 pukul 23:21
Comments
Post a Comment