Skip to main content

Para kesatria bona

Oleh Jamal
Untuk para kesatria bona
Pindahan dari siaga
Pindahan deki, pejaten raya
Menuju dekat R.s mayapada
Di sini di asrama ini
Atas nama asrama islami
Di sini di kampus ini
Atas nama kampus religi
Wahai para pelajar filsafat
Yang pandai berdebat
Wahai para pelajar tafsir qur'an
Yang pandai mencari arti dan isi kandungan
Para pelajar filsafat yang pandai berdebat
Masih percayakah hari akherat
Para pelajar tafsir yang pandai mengungkap makna
Masih percayakah surga dan neraka
Mengapa aku bertanya?
Mengapa aku bertanya?
Berbicara lewat sastra
Berkata-kata dengan pena
Di sini, ya di sini
Di tempat ini
Yang aku rasakan di sini
Di atas lantai ini
Sedikit nuansa religi
Sepi, sepi di shubuh hari
Aku tak mengerti
Oh aku tak memahami
Mengapa itu terjadi?
Dengkuran mereka menyapa pagi
Di atas ranjang, manjakan mimpi
Mata terpejam telinga mendadak tuli
Adzan menggema cukup keras
Bangunkan mereka, para pemalas
Yang biarkan nafsu, jadi buas
lupa kewajiban serta tugas
Betapa sulitnya
Oh betapa susahnya
Untuk sujud menyembahNya
Untuk berdoa memohon padaNya
Inilah potret generasi bangsa
Kewajiban pada Tuhan-Nya saja
Begitu tega di lalaikannya
Apalagi janjinya sesama manusia
Jangan harap ditepati
yang ada malah ingkar janji
Hanya sedikit sekali
Yang jujur dan berdedikasi
Kebersihan sebagian dari pada iman
Seringkali di dengungkan
Di tulis besar-besaran
Tapi sedikit, sedikit yang menjalankan
Sedikit yang peduli
Sedikit yang sadar diri
Yang ada hanyalah buli
Buli, kepada juru absensi
Mereka bilang aku malaikat
Sukanya mencatat-catat
Mungkin aku sedikit terlihat
Sedikit terlihat, sok taat
Tapi aku bukan malaikat
Hanya manusia, yang pandai bermaksiat
Aku dengar saja, mereka mengumpat
aku terus memikul beban yang berat
Aku benci pada peraturan
Tapi apakah kau bisa beri jaminan
Bahwa kau mampu berjalan
Dengan penuh kesadaran
Bukankah kau dan aku
mengaji al-qur'an
Membaca al-qur'an
Menghafal al-qur'an
Menjadikannya sebagai pedoman
Pedoman dalam kehidupan
Petunjuk jalan kebenaran
Pembebas dari kegelapan
Cahaya penerang menuju Tuhan
Lalu mengapa? Seakan kita lupa
Kau dan aku semakin gila
Tertawa di atas firman sucinya
Tak cerminkan tuntunannya
Aku dan kamu harusnya berduka
Karena telah gagal, sebagai.orang beragama
Hilang rasanya haus dahaga
Sebagai para pencari ilmu dan makna
Ku tuangkan saja ungkapan hati.ini
Dalam sebuah puisi
Curhatan anak asrama
Ungkapkan marah dengan berkarya
Marah pada diri sendiri
Marah pada generasi bangsa ini
Para pejuang panji Islami
Yang membawa semangat qur'ani
Calon para pewaris nabi
Penerus sahabat-sahabat sejati
Penyambung lidah dakwah wali
Mahasiswa dan calon kiyai
Semoga masih ada
Dan seharusnya ada
Niat menjadi seorang mahasiswa
Menyandang gelar Maha
Bukanlah sebagai siswa
Yang sudah matang akalnya
Yang sudah canggih rasionya
Yang membara semangat intelektualnya
Sedikit, walau hanya sedikit saja
Semoga bisa merangkul mereka
Masih ada harapan sobat,
Tak ada kata terlambat,
Puisi ini hanyalah renungan, kawan
Jangan dipahami sebagai dendam
ini merupakan kasih sayang sekbid pendidikan dan kerohanian
Ulurkan tangan pada singa yang tenggelam
Bukan untuk menolong
Tapi untuk menyadarkan
Apalagi untuk sombong
Sekedar mengingatkan
Bahwa kita ini sedang berperang
Bahwa kita ini sedang berjuang
Bahwa kita ini sedang menanam
Bukan memanen ladang garam
Tak pantas untuk kita sekarang
Merasakan nikmat bersantai riang
Tapi sekarang, waktunya letih
Tapi sekarang, waktunya bersedih
Aku bukan sok suci
Tapi sekedar menasehati
Sekedar bersyair dan berpuisi
Sesuai dalam surat al -asri
Menasehati dalam kebenaran
Menasehati dalam kesabaran
Kebenaran isi al-qur'an
Kesabaran beribadah, musibah, atau pekerjaan dan pelajaran
Hanya ini kawan
Semoga bisa membangunkan
Membangunkan kesadaran
Dari tidur panjang yang terlelapkan

Jakarta, asrama bona. Senin 9 maret 2015. pukul 08.45 wib. Untuk sahabatku di asrama


Comments

Popular posts from this blog

Anak bertanya pada bapaknya

Buat Apa Berpuasa Anak bertanya pada bapaknya: Puasa Anak  : Pak, buat apa sih manusia capek-capek puasa?  Bapak : Agar kita menjadi orang yang takwa Nak. Anak  : Jangan pakai istilah agama yang rumit Pak. Jelaskan yang mudah dimengerti saja.  Bapak : Takwa itu jauhi larangan, kerjakan yang diperintahkan.  Anak   : Larangan apa? Perintah siapa Pak? Bapak : Larangan berbuat keburukan, dan perintah Gusti Allah Nak. Anak  : Jadi ini puasa perintah Gusti Allah Pak.  Bapak : Betul sekali, Nak. Orang dahulu juga berpuasa kok.  Anak  : Emang Gusti Allah dapat apa, nyuruh manusia puasa.  Bapak : Manusia yang butuh puasa, Nak. Gusti Allah tidak membutuhkan apapun dan siapapun.  Anak : Buktinya apa kalau manusia butuh puasa Pak?  Bapak : Nak, semua yang ada di alam semesta itu ada titik jedanya, ada liburnya, ada cutinya. Waktu rehat itu digunakan untuk pemulihan kembali.  Hewan saja berpuasa kok Nak.  Anak : Masa Pak...

Culture Shock Di Bali

  Pengalaman 2 Pekan di Bali Saya mau berbagi cerita selama di Bali dalam 2 pekan. Saya tinggal sementara di rumah mertua yang terletak di Kabupaten Jembrana, kota Negara, Lelateng.  Ada beberapa budaya yang menurut saya baru dan menarik untuk saya ceritakan sebagai pengalaman hidup. Yuk kita simak; 1. Banyak patung  Saat saya sampai di Bali, saya melihat arsitektur bangunan patung yang banyak. Ternyata patung itu digunakan umat Hindu untuk beribadah baik di tengah kota, perkantoran, sampai perumahan.  2. Aroma dupa  Yah, yang ini saya merasakan hawa mistis namun menenangkan. Aroma dupa itu memiliki ciri khas tersendiri. Kalau saya pribadi cukup menyukai kalau sekedar lewat. Tapi, kalau kelamaan juga kurang nyaman di hidung.  3. Orang ibadah di jalanan Saya ketika jalan dengan istri saya, ada orang ibadah di perempatan jalan. Saya sempat segan ingin lewat. Tapi, kata istri saya tidak apa-apa, lewat saja. Memang itu sudah biasa. Pernah juga lihat waktu Maghr...

Ada Anak Bertanya Pada Bapaknya

Ikhlas Bersedekah Anak bertanya pada bapaknya.  Anak : Pak, kenapa sih kita dianjurkan sedekah?  Bapak: Biar kita belajar ikhlas nak.  Anak : Ikhlas itu apa sih pak? Bapak : Ikhlas itu seperti kamu buang air besar dan buang air kecil.  Anak : Maksudnya gimana Pak? Belum paham.  Bapak : Kalau kamu pengen buang air, kamu tahan apa kamu keluarkan nak? Anak : Ya pasti dikeluarkan dong Pak.  Bapak: Terus perasaan kamu gimana setelah buang air nak? Anak : Ya lega pak.  Bapak: Terus kamu rela kotoran kamu masuk toilet? Anak : Iya rela lah pak. Emang buat apa kotoran.  Bapak : Seperti itulah Ikhlas Nak. Kamu rela sepenuh hati seperti melepas kotoran itu. Dan kamu tidak mengharapkan sama sekali kotoran itu akan kembali menjadi milik kamu.  Anak : Oh begitu ya Pak.  Anak : Terus apa hubungannya Sedekah dan kotoran Pak? Bapak : sebagian harta kita itu tidak semuanya milik kita, Nak. Ada milik orang lain juga. Kalau punya orang kita ambil juga, nant...