Oleh Jamal
butiran embun pagi yang sejuk itu
tak sesejuk kasih sayangmu
mentari pagi yang hangat itu
tak sehangat pelukanmu
ada rindu yang tak tertahan
dalam, semakin dalam
tak mampu ku ungkapkan
ada keengganan yang menghujam
ada rasa malu untuk bicara
katakan rindu kepadanya
mungkin ego diri membelenggu
atau keangkuhan dari anakmu
ingin sekali aku katakan
aku sangat mencintaimu
hingga sekarang masih tersimpan
hanya sempat, mencium kakimu
ya, saat itu ku basuh kakimu
aku beranikan diri
bercucuran air mataku
seperti terlahir kembali
aku menangis
ibuku juga menangis
setelah itu dia tertawa
entah terharu atau bahagia
terlarut dalam suasana suci
tepatnya di idul fitri
maafku sampai telapak kaki
tempat di mana surga menanti
saat itu aku berdoa
semoga ibuku tunaikan hajatnya
pergi haji menuju mekkah
dengan rizki yang barokah
aku mohonkan pengampunan
atas dosaku dan dosanya
semoga dia dalam lindungan
Dari Tuhan Yang Maha Rahman
Ibu
Itu simbol ketenangan
Itu simbol kedamaian
itu rasa kesejukan
itu rasa kehangatan
Ibu
ada hal yang ku rindukan
ketika kau bercerita masa kecilku
betapa penuh dengan tangisan
menghadapi kenakalanku
aku ingat saat kau menyisir rambutku
menyiapkan pakaian Sekolah Dasarku
kau pakaikan topi di kepalaku
ikatkan sepatu di kedua kakiku
tubuhku masih mungil
rentan serta rapuh
kau dekap aku saat menggigil
bangunkan aku saat terjatuh
aku sadar, harapanmu begitu besar
kepadaku, generasimu
kepadaku, keturunanmu
Dari itu, kau menyertaiku
Ibu
aku tak sanggup membalasmu
terlalu banyak jasa-jasamu
terlalu besar pengorbananmu
terlalu luas ruang cintamu
Ibu
kasih sayang tanpa batas
cinta kasih takkan putus
terus mengalir tak pernah puas
terus bergulir dengan tulus
Jakarta, 10/07/2015
butiran embun pagi yang sejuk itu
tak sesejuk kasih sayangmu
mentari pagi yang hangat itu
tak sehangat pelukanmu
ada rindu yang tak tertahan
dalam, semakin dalam
tak mampu ku ungkapkan
ada keengganan yang menghujam
ada rasa malu untuk bicara
katakan rindu kepadanya
mungkin ego diri membelenggu
atau keangkuhan dari anakmu
ingin sekali aku katakan
aku sangat mencintaimu
hingga sekarang masih tersimpan
hanya sempat, mencium kakimu
ya, saat itu ku basuh kakimu
aku beranikan diri
bercucuran air mataku
seperti terlahir kembali
aku menangis
ibuku juga menangis
setelah itu dia tertawa
entah terharu atau bahagia
terlarut dalam suasana suci
tepatnya di idul fitri
maafku sampai telapak kaki
tempat di mana surga menanti
saat itu aku berdoa
semoga ibuku tunaikan hajatnya
pergi haji menuju mekkah
dengan rizki yang barokah
aku mohonkan pengampunan
atas dosaku dan dosanya
semoga dia dalam lindungan
Dari Tuhan Yang Maha Rahman
Ibu
Itu simbol ketenangan
Itu simbol kedamaian
itu rasa kesejukan
itu rasa kehangatan
Ibu
ada hal yang ku rindukan
ketika kau bercerita masa kecilku
betapa penuh dengan tangisan
menghadapi kenakalanku
aku ingat saat kau menyisir rambutku
menyiapkan pakaian Sekolah Dasarku
kau pakaikan topi di kepalaku
ikatkan sepatu di kedua kakiku
tubuhku masih mungil
rentan serta rapuh
kau dekap aku saat menggigil
bangunkan aku saat terjatuh
aku sadar, harapanmu begitu besar
kepadaku, generasimu
kepadaku, keturunanmu
Dari itu, kau menyertaiku
Ibu
aku tak sanggup membalasmu
terlalu banyak jasa-jasamu
terlalu besar pengorbananmu
terlalu luas ruang cintamu
Ibu
kasih sayang tanpa batas
cinta kasih takkan putus
terus mengalir tak pernah puas
terus bergulir dengan tulus
Jakarta, 10/07/2015
Comments
Post a Comment