Skip to main content

DN

Oleh Jamal

Dulu, DN-ku lahir dengan kemewahan
Tak pernah mengalami penderitaan
Tak menikmati proses perintisan
Langsung besar dalam buaian
aku dengar lewat cerita-cerita mereka
Begitu menyenangkan dan bahagia
Nyaman sangat sejahtera
Aman damai melampaui sederhana
Fasilitasnya jangan tanya!
Mewah semewah-mewahnya
Guru dan murid begitu dimanja
Dalam ayunan yang tak begitu lama
murid-muridnya luar biasa
Pandai, berbakat, banyak prestasinya
Mereka banyak berkarya
Banyak inovasi dan kreasi yang nyata
Membanggakan
Sungguh membanggakan
Guru-guru dimakmurkan
Diberikan tempat tinggal, makan, bahkan juga kendaraan
Mobil bus siap untuk jalan-jalan
Gor pribadi khusus luas satu area lapangan
Masjid bertembok marmer menyuarakan adzan
Gedung baru masih segar mengiringi zaman
Tiba, aku masuk ke sana
Semuanya hilang begitu saja
Hanya tinggal kisah-kisah belaka
Menarik memang, tapi itu khayalan semata
Kita semua mencoba tegar
Kita semua mencoba sabar
Sedangkan gerbang sekolah mulai gemetar
Menyambut siswa-siswi yang mulai gempar
Guru-guru keluar bergantian
Sedikit demi sedikit berguguran
Alasan utamanya adalah gaji bulanan
Yang tak lagi mencukupi kebutuhan
Murid-murid menyedihkan
Mereka ketakutan hadapi ujian
Kelas-kelas kosong tanpa aktivitas pengajaran
Karena pendidik tak tahan berlarian,
Mereka pergi, tak tahan lagi
Mereka tersenyum di depan muridnya sendiri
Menghadapi suasana yang tak menyenangkan hati
Para murid hanya tinggal menangisi diri
Wahai para atasan
Ketua, staff, dan pegawai yayasan
Apakah ini yayasan pendidikan
Yang katanya Islam yang menjadi tujuan
Bagaimanakah ini terjadi?
Begitu cepat kejayaan itu terhenti?
Hanya sekejap saja, lalu mati
Aku harap bangkitlah kembali
Aku lihat atasan sudah lupa
Bahwa mereka adalah pemimpinnya
Kemanakah tanggung jawabnya?
Hanya bersantai saja, nikmati kucuran dana
Oh, malangnya. . .
Anak-anak emas terlantar nasibnya
Oh, malangnya. . .
Anak-anak unggul dibunuh kreativitasnya
Sudahi saja,
atau tetap pertahankan dengan terpaksa
Bagi mereka yang kaya, mereka bisa pindah sekolah semaunya
Tapi, bagi yang tak punya
Hanya meratapi keadaanya
Mereka adalah korban kebohongan
Dari manipulasi cerita lama yang terlalu di besarkan
Yang sekarang hanyalah tinggal kenangan
Tinggal puing-puing di balik reruntuhan bangunan kemewahan
Wahai SMA-ku. . .
Duhai masa remajaku
Bagaimanapun kau adalah bagian dari sejarahku
Aku sempat ditempa di sana, dengan beasiswa
Aku kadang malas untuk mengingatnya
Tapi rindu untuk mengenangnya
Teman-temanku yang kuat mentalnya
Sahabatku yang tinggi harapannya
DN-ku aku rindu keunggulanmu
Aku rindu dengan segudang prestasimu
Aku rindu dengan kemajuanmu
Aku rindu atmosfir intelektualmu
Cita-cita alumninya sungguh mulia
Ingin kembali mengangkat almamaternya
Mencoba semangati adik-adiknya
Tapi bagaimankah dengan yang ada di atasnya?
Entah bisakah berubah?
Sampai kapankah?
Entahlah, entahlah?
Aku hanya bisa menghela nafas dan mengangah!
Sepertinya mereka kebal motivasi
Tak perlu lagi dimotivasi
Mereka sudah kuat teruji
Beban psikologi sudah menjadi jati diri

Oh Dn-ku sayang. . .
Oh Dn-ku malang . . .
Semoga kau cepat tumbuh besar
Melambung tinggi pancarkan sinar

Jakarta, 10/06/2015

Comments

Popular posts from this blog

Anak bertanya pada bapaknya

Buat Apa Berpuasa Anak bertanya pada bapaknya: Puasa Anak  : Pak, buat apa sih manusia capek-capek puasa?  Bapak : Agar kita menjadi orang yang takwa Nak. Anak  : Jangan pakai istilah agama yang rumit Pak. Jelaskan yang mudah dimengerti saja.  Bapak : Takwa itu jauhi larangan, kerjakan yang diperintahkan.  Anak   : Larangan apa? Perintah siapa Pak? Bapak : Larangan berbuat keburukan, dan perintah Gusti Allah Nak. Anak  : Jadi ini puasa perintah Gusti Allah Pak.  Bapak : Betul sekali, Nak. Orang dahulu juga berpuasa kok.  Anak  : Emang Gusti Allah dapat apa, nyuruh manusia puasa.  Bapak : Manusia yang butuh puasa, Nak. Gusti Allah tidak membutuhkan apapun dan siapapun.  Anak : Buktinya apa kalau manusia butuh puasa Pak?  Bapak : Nak, semua yang ada di alam semesta itu ada titik jedanya, ada liburnya, ada cutinya. Waktu rehat itu digunakan untuk pemulihan kembali.  Hewan saja berpuasa kok Nak.  Anak : Masa Pak...

Culture Shock Di Bali

  Pengalaman 2 Pekan di Bali Saya mau berbagi cerita selama di Bali dalam 2 pekan. Saya tinggal sementara di rumah mertua yang terletak di Kabupaten Jembrana, kota Negara, Lelateng.  Ada beberapa budaya yang menurut saya baru dan menarik untuk saya ceritakan sebagai pengalaman hidup. Yuk kita simak; 1. Banyak patung  Saat saya sampai di Bali, saya melihat arsitektur bangunan patung yang banyak. Ternyata patung itu digunakan umat Hindu untuk beribadah baik di tengah kota, perkantoran, sampai perumahan.  2. Aroma dupa  Yah, yang ini saya merasakan hawa mistis namun menenangkan. Aroma dupa itu memiliki ciri khas tersendiri. Kalau saya pribadi cukup menyukai kalau sekedar lewat. Tapi, kalau kelamaan juga kurang nyaman di hidung.  3. Orang ibadah di jalanan Saya ketika jalan dengan istri saya, ada orang ibadah di perempatan jalan. Saya sempat segan ingin lewat. Tapi, kata istri saya tidak apa-apa, lewat saja. Memang itu sudah biasa. Pernah juga lihat waktu Maghr...

Ada Anak Bertanya Pada Bapaknya

Ikhlas Bersedekah Anak bertanya pada bapaknya.  Anak : Pak, kenapa sih kita dianjurkan sedekah?  Bapak: Biar kita belajar ikhlas nak.  Anak : Ikhlas itu apa sih pak? Bapak : Ikhlas itu seperti kamu buang air besar dan buang air kecil.  Anak : Maksudnya gimana Pak? Belum paham.  Bapak : Kalau kamu pengen buang air, kamu tahan apa kamu keluarkan nak? Anak : Ya pasti dikeluarkan dong Pak.  Bapak: Terus perasaan kamu gimana setelah buang air nak? Anak : Ya lega pak.  Bapak: Terus kamu rela kotoran kamu masuk toilet? Anak : Iya rela lah pak. Emang buat apa kotoran.  Bapak : Seperti itulah Ikhlas Nak. Kamu rela sepenuh hati seperti melepas kotoran itu. Dan kamu tidak mengharapkan sama sekali kotoran itu akan kembali menjadi milik kamu.  Anak : Oh begitu ya Pak.  Anak : Terus apa hubungannya Sedekah dan kotoran Pak? Bapak : sebagian harta kita itu tidak semuanya milik kita, Nak. Ada milik orang lain juga. Kalau punya orang kita ambil juga, nant...