Skip to main content

Ghasyiyah

Ghasyiyah
Al Mustafa turun ke bumi
Membawa ajaran suci
Membawa kebenaran hakiki
Membawa harapan Insani

Aku menangis tersedu-sedu masih ada... masih ada... yang mau menelan pahitnya empedu
padahal, Al mustafa telah memandu
tapi mereka betah di atas tandu

pada hari itu...
wajah-wajah tertunduk hina
terbakar api yang sangat panas
meneguk lahar dan bara
memakan duri yang tajam lagi keras

Tak mengenyangkan, tak memuaskan
mengharukan, memprihatinkan
Penyesalan hanyalah penyesalan
tak ada lagi perbaikan, tak ada lagi kesempatan

sedangkan mereka...
mereka ahlul-jannah berseri-seri
mereka ridho ikhlaskan diri
mereka naik ke puncak tinggi
meraih apa yang dicintai

Disana...
Tak ada kata yang sia-sia
mata air mengalir berirama
dipan-dipan hiasi tahtanya
gelas-gelas terisi madu surga

Disana...
bantal-bantal tersusun rapih
permadani terbentang luas
selayang pandangan jernih
kupu-kupu terbang lepas

Inilah Janji Tuhan
Al-Mustafa telah peringatkan
namun tak pernah kita renungkan
akan ada hari pembalasan



Comments

Popular posts from this blog

Anak bertanya pada bapaknya

Buat Apa Berpuasa Anak bertanya pada bapaknya: Puasa Anak  : Pak, buat apa sih manusia capek-capek puasa?  Bapak : Agar kita menjadi orang yang takwa Nak. Anak  : Jangan pakai istilah agama yang rumit Pak. Jelaskan yang mudah dimengerti saja.  Bapak : Takwa itu jauhi larangan, kerjakan yang diperintahkan.  Anak   : Larangan apa? Perintah siapa Pak? Bapak : Larangan berbuat keburukan, dan perintah Gusti Allah Nak. Anak  : Jadi ini puasa perintah Gusti Allah Pak.  Bapak : Betul sekali, Nak. Orang dahulu juga berpuasa kok.  Anak  : Emang Gusti Allah dapat apa, nyuruh manusia puasa.  Bapak : Manusia yang butuh puasa, Nak. Gusti Allah tidak membutuhkan apapun dan siapapun.  Anak : Buktinya apa kalau manusia butuh puasa Pak?  Bapak : Nak, semua yang ada di alam semesta itu ada titik jedanya, ada liburnya, ada cutinya. Waktu rehat itu digunakan untuk pemulihan kembali.  Hewan saja berpuasa kok Nak.  Anak : Masa Pak...

Ramadan Jalan Pulang

Ramadan, Kembali Pulang 11 bulan aku berjalan menjauh Debu dan kotoran memenuhi tubuh Ya Allah, Dengan Kasih dan Sayang-Mu Engkau khususkan 1 bulan penuh, agar aku bisa membersihkan diriku Berkali-kali aku berdusta Aku lebih mencintai harta Berkali-kali aku berdusta Aku sangat suka tahta Hanya ada secuil iman Yang kuharap banyaknya pujian Ku puja-puja jabatan Ku agungkan semua kenikmatan Namun, Engkau masih menungguku kembali Ya Allah, Ya Rabbi... Ramadan tahun ini sungguh berbeda Engkau selipkan Makhluk 'Gaib' Corona Dan Seluruh dunia hujan air mata Dan semua manusia tidak berdaya Ya Allah, terimalah aku kembali Pulang menuju-Mu lagi -Pilar Teduh-

Biografi singkat Nawal El Sa'adawi

Biografi singkat Nawal El Sa'adawi Nawal lahir di sebuah desa kecil Kefr Tahlah Pinggiran sungai Nil, Mesir, Negeri Piramida. Usianya 88 tahun, tepatnya pada 27 Oktober 1931 sebelum Indonesia merdeka. Dia dijuluki Simone De Beauvoir Dunia Arab. Dia anak pertama dari 9 bersaudara. Ayah ibunya meninggal, ketika Nawal masih muda sehingga terpaksa menjadi tulang punggung keluarga. Simone De Beauvoir sendiri adalah tokoh feminisme modern dan pakar filsafat asal Perancis terkenal di abad ke-20. Namun, sudah wafat tahun 1986. Sehingga keidentikan itu disematkan kepada Nawal. Sementara Nawal sampai saat ini masih hidup dan aktif menyuarakan gagasannya tentang feminisme modern baik di medsos maupun stasiun televisi di Mesir atau dunia. Pada awalnya Nawal adalah seorang dokter lulusan terbaik di kampusnya melawan laki-laki, namun karena tertarik dengan kasus khitan bagi perempuan yang ia sebut praktik mutilasi alat kelamin perempuan secara ilegal, maka saat itu juga dia mulai men...