Di kota dan di desa
Di desa...
Kicau burung menyambut pagiku
Sang Fajar tersenyum semangatiku
Dedaunan melambai padaku
butir embun, sejuk menyapaku
Kicau burung menyambut pagiku
Sang Fajar tersenyum semangatiku
Dedaunan melambai padaku
butir embun, sejuk menyapaku
Di kota...
kicau burung juga menyambut pagiku
sayangnya, suara motor dan mobil saling beradu
Sang Fajar terlihat lesu
Daun-daun terkungkung layu
kicau burung juga menyambut pagiku
sayangnya, suara motor dan mobil saling beradu
Sang Fajar terlihat lesu
Daun-daun terkungkung layu
wahai desaku...
aku rindu keasrianmu
aku rindu rumput rindangmu
aku cinta keramahanmu
aku cinta elok rupamu
aku rindu rumput rindangmu
aku cinta keramahanmu
aku cinta elok rupamu
alam semesta begitu menyatu
hutan lindung, gunung, dan kebun-kebun sahabatmu
kirimkan salam lewat langit yang membiru
rintik-rintik hujan berbisik malu kabarkan keadaanmu
hutan lindung, gunung, dan kebun-kebun sahabatmu
kirimkan salam lewat langit yang membiru
rintik-rintik hujan berbisik malu kabarkan keadaanmu
apa kabar engkau di sana wahai
kampungku?
masihkah dirimu mengenalku?
ingatlah! ingatlah kala kita bermain dulu?
jangan lupakan masa kecilku yang telah berlalu?
masihkah dirimu mengenalku?
ingatlah! ingatlah kala kita bermain dulu?
jangan lupakan masa kecilku yang telah berlalu?
Kini aku di kota...
pohon-pohon lemas dan lunglai
pemandangan, sesak dan ramai
polusi udara tak mau berdamai
kemacetan kerapkali membantai
pemandangan, sesak dan ramai
polusi udara tak mau berdamai
kemacetan kerapkali membantai
oh malangnya,.. malangnya nasib
kotaku
engkau dewasa tapi sangat lugu
kau biarkan pabrik membunuhmu
kau acuhkan gedung-gedung menginjakmu
engkau dewasa tapi sangat lugu
kau biarkan pabrik membunuhmu
kau acuhkan gedung-gedung menginjakmu
moral etika tak penting lagi
estetikalah penguasa panggungnya
salam sapa tak jadi tradisi
kesombongan dominannya
estetikalah penguasa panggungnya
salam sapa tak jadi tradisi
kesombongan dominannya
maafkan aku kampung desaku
terlalu cepat aku meninggalkanmu
terlalu lancang aku mengucilkanmu
aku menyesal, menyesal lihat kau dengan sebelah mataku
terlalu cepat aku meninggalkanmu
terlalu lancang aku mengucilkanmu
aku menyesal, menyesal lihat kau dengan sebelah mataku
cambuklah aku wahai desaku
pukullah aku wahai kampungku
asap kotaku terlanjur cemariku
air yang keruh mualkan perut buncitku
pukullah aku wahai kampungku
asap kotaku terlanjur cemariku
air yang keruh mualkan perut buncitku
desaku tetaplah begitu
kotaku lapangkan dadamu
desaku jagalah kekayaanmu
kotaku hati-hati dengan hartamu
kotaku lapangkan dadamu
desaku jagalah kekayaanmu
kotaku hati-hati dengan hartamu
Comments
Post a Comment