Skip to main content

Baginda Yusuf a.s

Baginda Yusuf a.s
Ya Nabiyullah Yusuf a.s
Putra baginda Ya'qub a.s

Ketampananmu tak membuatmu terlena
kegagahanmu tak membuatmu durjana
engkau mulia di hadapan amunhatep sang raja
menjadi kebanggan putifar sang pejabat istana

kecerdasanmu sungguh memikat
kebijakanmu menarik setiap umat
banyak orang menaruh hormat
para wanita semakin terpikat

Hingga Zulaikha mencintainya
Namun Yusuf tak tergoda
Fitnahpun datang menghampirinya
Ia tetap tabah pada tuhan-Nya

Jibril turun dengan wahyunya
Mukjizat datang menyelamatkannya
sang bayi mampu berbicara
menjadi saksi atas fitnahnya

Zulaikha semakin terbakar asmara
Ia mengundang wanita untuk berpesta
Yusuf berjalan di tengah acara
Pisau melayang lukai tangan-tangan mereka

Duhai Yusuf .....
wajahmu begitu rupawan
bagaikan bunga-bunga di taman
Sungguh indah nan menawan
wujudmu simbolkan Tuhan
kearifanmu bak wewangian

Engkau sungguh pemberani
melawan Amun dewa penguasa
Begitulah tugas sang Nabi
perangi berhala serta kezhaliman yang nyata

Zulaikha semakin tergila-gila
namun Yusuf, tetap jaga kehormatannya
begitulah seharusnya wahai pemuda
teladan yusuf keteguhan imannya

Dalam penjara ia menjadi emas
membimbing hilangkan cemas
menasihati napi yang ganas
melunakkan hati yang keras

musuhnya ia jadikan teman
penjaranya ia jadikan hunian
akhlaknya pancarkan kesucian
membuat orang senantiasa terkesan

Yusuf muda senantiasa berdoa
Yusuf tampan senantiasa beriman
Yusuf gagah selalu beribadah
Yusuf bijak tak pernah congak

Hingga perjumpaan yang nanti
antara yusuf dan Ya'qub baginda nabi
hapuskan air mata sepi
atas perpisahan yang ironi

Terbayarlah kerinduan
Terbayarlah kesabaran
terhanyut dalam pelukan
terikat erat dalam tangisan



Comments

Popular posts from this blog

Anak bertanya pada bapaknya

Buat Apa Berpuasa Anak bertanya pada bapaknya: Puasa Anak  : Pak, buat apa sih manusia capek-capek puasa?  Bapak : Agar kita menjadi orang yang takwa Nak. Anak  : Jangan pakai istilah agama yang rumit Pak. Jelaskan yang mudah dimengerti saja.  Bapak : Takwa itu jauhi larangan, kerjakan yang diperintahkan.  Anak   : Larangan apa? Perintah siapa Pak? Bapak : Larangan berbuat keburukan, dan perintah Gusti Allah Nak. Anak  : Jadi ini puasa perintah Gusti Allah Pak.  Bapak : Betul sekali, Nak. Orang dahulu juga berpuasa kok.  Anak  : Emang Gusti Allah dapat apa, nyuruh manusia puasa.  Bapak : Manusia yang butuh puasa, Nak. Gusti Allah tidak membutuhkan apapun dan siapapun.  Anak : Buktinya apa kalau manusia butuh puasa Pak?  Bapak : Nak, semua yang ada di alam semesta itu ada titik jedanya, ada liburnya, ada cutinya. Waktu rehat itu digunakan untuk pemulihan kembali.  Hewan saja berpuasa kok Nak.  Anak : Masa Pak...

Culture Shock Di Bali

  Pengalaman 2 Pekan di Bali Saya mau berbagi cerita selama di Bali dalam 2 pekan. Saya tinggal sementara di rumah mertua yang terletak di Kabupaten Jembrana, kota Negara, Lelateng.  Ada beberapa budaya yang menurut saya baru dan menarik untuk saya ceritakan sebagai pengalaman hidup. Yuk kita simak; 1. Banyak patung  Saat saya sampai di Bali, saya melihat arsitektur bangunan patung yang banyak. Ternyata patung itu digunakan umat Hindu untuk beribadah baik di tengah kota, perkantoran, sampai perumahan.  2. Aroma dupa  Yah, yang ini saya merasakan hawa mistis namun menenangkan. Aroma dupa itu memiliki ciri khas tersendiri. Kalau saya pribadi cukup menyukai kalau sekedar lewat. Tapi, kalau kelamaan juga kurang nyaman di hidung.  3. Orang ibadah di jalanan Saya ketika jalan dengan istri saya, ada orang ibadah di perempatan jalan. Saya sempat segan ingin lewat. Tapi, kata istri saya tidak apa-apa, lewat saja. Memang itu sudah biasa. Pernah juga lihat waktu Maghr...

Ada Anak Bertanya Pada Bapaknya

Ikhlas Bersedekah Anak bertanya pada bapaknya.  Anak : Pak, kenapa sih kita dianjurkan sedekah?  Bapak: Biar kita belajar ikhlas nak.  Anak : Ikhlas itu apa sih pak? Bapak : Ikhlas itu seperti kamu buang air besar dan buang air kecil.  Anak : Maksudnya gimana Pak? Belum paham.  Bapak : Kalau kamu pengen buang air, kamu tahan apa kamu keluarkan nak? Anak : Ya pasti dikeluarkan dong Pak.  Bapak: Terus perasaan kamu gimana setelah buang air nak? Anak : Ya lega pak.  Bapak: Terus kamu rela kotoran kamu masuk toilet? Anak : Iya rela lah pak. Emang buat apa kotoran.  Bapak : Seperti itulah Ikhlas Nak. Kamu rela sepenuh hati seperti melepas kotoran itu. Dan kamu tidak mengharapkan sama sekali kotoran itu akan kembali menjadi milik kamu.  Anak : Oh begitu ya Pak.  Anak : Terus apa hubungannya Sedekah dan kotoran Pak? Bapak : sebagian harta kita itu tidak semuanya milik kita, Nak. Ada milik orang lain juga. Kalau punya orang kita ambil juga, nant...